KN, Pepatah tradisional bukan sekadar rima lama, melainkan cermin kebijakan lokal yang tajam dalam membedah realitas politik modern. Fenomena “Politik Ayam”—meminjam istilah dari pepatah bertelur satu ribut sekampung—kini menjadi sorotan sebagai kritik terhadap gaya kepemimpinan yang mengutamakan pencitraan di atas substansi.
Paradoks “Ayam” dalam Kebijakan Publik
Dalam tinjauan sosiologi politik, sifat “ayam di kandang” menggambarkan elite yang lebih sibuk dengan propaganda dan narasi kosong ketimbang hasil nyata. Analisis menunjukkan bahwa politik yang terlalu berisik sering kali menjadi tabir bagi praktik patronase dan subordinasi.
”Satu telur diretas, itu pun untuk dimakan sendiri, tapi berisiknya seolah kesejahteraan telah dibagikan ke seluruh kawasan,” tulis sebuah refleksi kritis mengenai fenomena ini. Dampaknya tidak main-main: penyalahgunaan anggaran publik untuk membayar “tukang sorak” atau individu yang pintar berisik justru memperlebar jurang kemiskinan dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi.
Kembali ke “Ilmu Padi”
Sebaliknya, filsafat politik ideal direfleksikan melalui “ilmu padi”—semakin berisi, semakin menunduk. Model ini menekankan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang:
- Rendah Hati: Menjauhkan diri dari “kata tinggi melambung” dan kesombongan kekuasaan.
- Berorientasi Kerja Nyata: Memprioritaskan policy act (tindakan kebijakan) di atas speech act (retorika).
- Membangun Program Produktif: Mengalihkan anggaran pencitraan ke program padat karya yang langsung menyentuh daya beli rakyat.
Padat Karya sebagai Legitimasi Nyata
Secara ekonomi politik, kebijakan yang produktif seperti pemberdayaan ekonomi dan pembangunan infrastruktur padat karya terbukti lebih efektif memperkuat legitimasi kekuasaan dibandingkan retorika belaka.
Dalam teori demokrasi deliberatif, kualitas politik diukur dari sejauh mana diskursus publik menghasilkan kesejahteraan nyata. “Biarkan rakyat yang berisik karena kesejahteraannya, bukan karena penderitaannya,” tegas ulasan tersebut.
Kesimpulan dan Peringatan Sejarah
Sejarah mencatat bahwa banyak peradaban runtuh bukan karena kurangnya sumber daya, melainkan karena elitenya terjebak dalam konflik internal dan retorika tanpa substansi. Pepatah ayam dan padi ini menjadi pengingat universal bahwa kepemimpinan adalah tentang tanggung jawab sosial, bukan panggung pertunjukan.
Sudah saatnya arah kebijakan publik bergeser dari politik performatif menuju politik yang membumi, di mana integritas dan hasil nyata menjadi mata uang utama dalam meraih kepercayaan rakyat.
Serambi Peradaban
Foto: Ilustrasi, sumber foto: Putra Perkasa
sumber: Esdotfil






