Foto: Ilustrasi, sumber foto: Boombastis.com
Stramed, Kondisi alam di Indonesia disinyalir semakin memburuk sebagai dampak perubahan iklim yang kurang terantisipasi, eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran dan ancaman yang ditimbulkan oleh kondisi alam semakin tersebar di banyak wilayah di Indonesia.
Sekitar 127 gunung aktif di Indonesia berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Sedangkan, di Jawa ada sekitar 19 gunung antara lain Gunung Merapi, Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Slamet di lima kabupaten, yakni Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, Teggl, dan Pemalang, Gunung Ciremai di Kabupaten Kuningan dan Majalengka, Gunung Lamongan di Kabupaten Lumajang dan Probolinggo, Gunung Lurus di jajaran Pegunungan Iyang, Gunung Arjuno di perbatasan Kabupaten Malang dan Pasuruan, Gunung Welirang di Kabupaten Mojokerto dan Pasuruan, dan Gunung Baluran di Kabupaten Situbondo, Gunung Raung di Kabupaten Banyuwangi-Bondowoso-Jember, Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Gunung Butak di perbatasan Kabupaten Malang dan Blitar, Gunung Argopuro di Kabupaten Bondowoso, Gunung Penanggungan di perbatasan Kabupaten Mojokerto dan Pasuruan, Gunung Ijen di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, Gunung Kelud di wilayah Kabupaten Kediri-Blitar-Malang, Gunung Semeru di Kabupaten Malang dan Lumajang, serta Gunung Bromo di Probolinggo-Pasuruan-Lumajang-Malang, dan Gunung Anak Krakatu di Selat Sunda.
Sementara itu, ancaman kekeringan juga melanda banyak wilayah di Indonesia. Sejak 3 bulan yang lalu, air di Waduk Jatiluhur terus menyusut. Penyusutan air Waduk Jatiluhur ini mencapai dua sentimeter per jam. Sementara, di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kekeringan mengakibatkan 5.666 hektare sawah gagal panen atau puso. Dari 120 ribu hektare sawah di Indramayu, 3.184 hektare mengalami kekeringan ringan, 2.436 hektare kekeringan sedang, dan 4.218 hektare kekeringan berat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Bandung memperingatkan kekeringan di Jawa Barat akan semakin meluas. Potensi kekeringan ekstrem di provinsi itu akan terjadi di hampir seluruh wilayah. Kekeringan menyebabkan krisis air bersih, potensi gagal panen yang meluas, dan kenaikan harga komoditas pertanian.
Di Jawa Barat, ada tiga kecamatan yang tidak mendapat hujan lebih dari 105 hari, yakni Kecamatan Gantan, Cipancuh dan Temiyang, di Kabupaten Indramayu. Beberapa daerah yang sudah mendapat curah hujan kurang dari 10%, yakni Bogor barat bagian barat, sebagian kecil Ciamis, Pangandaran, Garut, dan Sumedang bagian selatan. Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Barat menyatakan 20 daerah sudah terdampak kekeringan.
Lahan pertanian seluas 20.621 hek-tare mengalami kekeringan dan 166.957 kepala keluarga kekurangan air bersih. Di Cianjur, akibat kekeringan menyebabkan kehilangan potensi panen atas lahan seluas 3.737 hektare di 32 kecamatan. Sementara itu, krisis air bersih dialami 53.205 jiwa atau 16.989 kepala keluarga yang tersebar di lima kecamatan. Sementara, di Klaten, Jawa Tengah, krisis air bersih terjadi di 13 desa. Di Sulawesi Tengah, lahan seluas 7.356 hektare di Palu, Sigi, dan Donggala terdampak kekeringan.
Kemudian, data Badan Meteorologi Klima-tologi dan Geoftsika (BMKG) menyebutkan jumlah titik panas atau hotspot mengalami peningkatan. Titik panas terbanyak berada di Riau, yakni 61 titik panas, dimana 28 titik panas ada di wilayah Pelalawan. Sebanyak 30 titik panas dengan tingkat kepercayaan lebih dari 70 persen di Riau dan sebanyak 20 di antaranya ada di Pelalawan. BMKG juga mendeteksi 27 titik di beberapa provinsi antara lain Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan dan NTT. Berdasarkan data milik BMKG, jumlah titik panas di Riau mencapai 1.750 titik.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam/BBKSDA Riau mencatat, sebanyak 1.136 warga Kota Pekanbaru sudah terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) diduga akibat terpapar asap kebakaran lahan dan hutan di sejumlah wilayah di Riau. Total luas lahan terbakar di Riau mencapai 27.683,47 hektare. Enam titik Karhutla yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Brat, Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Riau, dan Jambi.
Bagaimanapun juga ancaman dari alam tidak dapat dipandang remeh karena berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, class action, perekonomian menurun dan memperparah defisit neraca pembayaran. (Red/dari berbagai sumber).






