Foto: Ilustrasi, sumber foto: News PNG Facts
Oleh : Toni Ervianto
Stramed, Dalam perspektif politik internasional, penguasaan geostrategi global sangat diperlukan untuk menegakkan hegemoni global, kekuatan diplomasi bahkan “menghabisi” lawan-lawan politiknya. Taiwan mengatakan akan memutuskan hubungan diplomatik dengan Solomon Islands, setelah negara Pasifik itu memutuskan untuk mendukung China. Dibalik fakta ini, kita harus menerjemahkan adanya perang strategi khususnya diantara “duet major players global” sekarang ini yaitu Amerika Serikat dan Tiongkok.
Langkah Solomon Islands itu merupakan tamparan keras bagi Presiden Taiwan Tsai Ing-wen yang sedang berjuang untuk terpilih lagi dalam pemilu bulan Januari di tengah meningkatnya ketegangan dengan China. Taiwan sekarang hanya memiliki hubungan diplomatik dengan 16 negara, karena China mengklaim Taiwan sebagai bagian wilayahnya dan tidak memiliki hak untuk menjalin hubungan diplomatik. China menawarkan bantuan pembangunan bernilai jutaan dolar kepada Solomon Islands sebagai ganti dukungan Taiwan sebelumnya. Ketika mengumumkan penghentian hubungan dengan Solomon Islands, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengecam bantuan keuangan yang ditawarkan oleh Beijing.
Solomon Islands adalah negara keenam yang mengakhiri hubungan diplomatik dengan Taiwan sejak Presiden Tsai Ing-wen mulai berkuasa sejak tahun 2016. Negara lain adalah Burkina Faso, the Dominican Republic, Sao Tome and Principe, Panama dan El Salvador. Dari 16 negara masih memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan, lima diantaranya berada di kawasan Lautan Pasifik yaitu Kiribati, Marshall Islands, Nauru, Tuvalu dan Palau.
Nicholas Spykman mengatakan, geopolitics is the planning of state security in terms of geographic factors. Teori Bertil Haggman menyebutkan geostrategi dikenal sebagai konsep yangsangat dekat dengan geopolitik. Geostraegi adalah penerapan dari geopolitik untuk perencanaan militer tingkat tinggi bertujuan dengan cara terbaik bagaimana mempergunakan pertahanan nasional dan sumber-sumber untuk penyelenggara perang.
Sedangkan, dalam kamus Webster (1966) menyebutkan geostrategi merupakan cabang dari geopolitik yang berhubungan dengan strategi merupakan kombinasi dari faktor-faktor geopolitik dan strategi yang bercirikan wilayah tertentu atau penggunaan strategi oleh pemerintah yang didasarkan atas geopolitik.
Sinyal-sinyal adanya perang geostrategi antara AS vs Tiongkok sudah dikemukakan berbagai kalangan, apalagi dalam laporan Dewan Intelijen Nasional AS (NIC) berjudul Global Trends 2025 : A Transformed World, memprediksikan AS akan mendapati Cina, Rusia dan India sebagai kekuatan baru yang mematahkan dominasi unipolarnya dan menjadi kekuatan multipolar yang berpengaruh, artinya dominasi kekuatan ekonomi, politik, dan militer AS akan merosot tajam pada 2025.
Pesan tajam
Setidaknya ada beberapa pesan tajam yang ingin disampaikan Tiongkok kepada Amerika Serikat dibalik putusnya hubungan Taiwan-Kepulauan Solomon antara lain : pertama, Tiongkok akan berusaha mempertahankan hegemoninya melawan AS, sehingga Tiongkok terus menerus akan mengonter “proxy war” yang ditudingkan mereka kepada AS saat kerusuhan di Hongkong.
Kedua, Tiongkok ingin menghukum Taiwan yang dinilainya sebagai “provinsi yang nakal” dan Beijing tidak ingin Tsai Ing-wen terpilih lagi, sehingga dapat diprediksi Tiongkok akan melakukan operasi diplomasi, kekuatan ekonomi dan operasi intelijen untuk “mempreteli” Taiwan, sehingga langkah Tiongkok ini akan membuat Taiwan meminta tolong kepada Amerika Serikat. Ketiga, Tiongkok sudah muak dengan Taiwan karena menjalin hubungan diplomatik dengan AS, termasuk membeli peralatan tempur dari AS, sebuah “noda politik” yang pantas mendapatkan hukuman berdasarkan konstitusi dan persepsi Tiongkok. Keempat, tampaknya strategi dan manuver yang dilakukan AS “dicopy paste” oleh Beijing dalam menancapkan hegemoni globalnya melalui unipolarity foreign policy.
Barry Rosen dalam “Foreign Policy after George W Bush : The Casefor Restraint”, The American Interest (2004)” mengatakan, setidaknya empat faktor utama yang mendorong AS untuk mengembangkan dominasi dan hegemoni di era pasca perang dingin yaitu : pertama, unipolaritas (kekuatan tunggal) yang dimiliki AS. Kedua, politik identitas sebagai sumber utama konflik-konflik internasional. Ketiga, penyebaran kemampuan militer kepada aktor di luar negara. Keempat, fenomena globalisasi yang memungkinkan kapitalisme menjadi satu-satunya kekuatan penentu ekonomi dunia. Bagaimanapun juga, putusnya hubungan diplomatik Taiwan-Kepulauan Solomon kemungkinan karena manuver atau penggalangan diplomasi dan ekonomi Tiongkok kepada Kepulauan Solomon. Hal yang sama dilakukan oleh AS kepada negara-negara yang pro Tiongkok, dengan langkah-langkah yang diuraikan oleh Barry Rosen diatas.
Dengan putusnya hubungan diplomatik Taiwan-Kepulauan Solomon, jelas posisi dan daya getar politik Xi Jinping jauh lebih hebat daripada Tsai Ing-wen yang pro AS, karena dimata rakyat Tiongkok, Xi Jinping akan dinilai mirip petuah Napoleon Bonaparte yaitu a leader is a dealer in hope (seorang pemimpin adalah penjual sekaligus pembeli harapan). Pemimpin besar pasti seorang yang memiliki karakter yang kuat, visi, inspiratif, dan mampu memberi harapan di tengah kesulitan yang mendera bangsanya.
Tetapi apakah yang dilakukan oleh Tiongkok dan AS yang selalu memainkan peran geostrategi globalnya benar atau tidak.
Jawabannya bisa saja benar karena menurut Alexander Wendt, 1992 : pendekatan konstruktivisme dalam hubungan internasional menyebutkan perilaku negara ditentukan oleh nilai dan norma-norma yang diamalkannya, sehingga nilai-nilai dalam bentuk apapun dikonstruksi dan diproduksi oleh negara-negara tersebut. Oleh karena itu, sikap anarki ataupun tidak oleh negara merupakan hasil dari konstruksi negara itu sendiri.
Sekali lagi, tidak ada lawan dan kawan yang abadi dalam politik dan diplomasi. Yang penting amannya kepentingan nasional sebuah negara.
*) Penulis adalah pemerhati masalah internasional. Alumnus pasca sarjana Universitas Indonesia (UI).
Disclaimer: Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.







