Oleh Marsma (P) Subandi Parto
Perang berubah, tapi tujuan perang tidak pernah berubah: rebut sumber daya dan taklukkan kemauan lawan. Dulu pakai bambu runcing, sekarang pakai satelit dan drone. Dulu perang gerilya, sekarang perang proxy dan cyber.
BESTEK PERANG DULU VS SEKARANG INI BEDANYA :
Perang Jaman Dulu adalah gerilya menggunakan bambu runcing, senapan, mortir. Murah meriah. Medannya hutan, gunung dan desa. Rebut wilayah jengkal demi jengkal. Kunci Menang : Pasukan elite kuat, tahan lapar, kenal medan. Contoh : Jenderal Soedirman gerilya. Korban : Rakyat dan tentara mati di lapangan. Jelas siapa lawan siapa. Tujuan Akhir adalaherdeka dan rebut tanah.
Perang jaman sekarang yaitu USA vs Iran 2026. Senjata menggunakan drone MQ-9, rudal hipersonik, satelit, AI, perang cyber. Mahal. Medan : Ruang udara, Ruang Angkasa/Antariksa, kabel internet, opini TikTok. Rebut pikiran dan ekonomi. Kunci Menang : Siapa kuasai langit dan data, dia menang. Bombardir dulu dari jauh, baru kirim pasukan. Korban : Ekonomi hancur, bank dibekukan, listrik padam. Musuh tidak kelihatan, tiba-tiba drone datang. Tujuan Akhir : Ganti rezim dan kuasai minyak/uranium. Cara lebih halus, tapi sama-sama penjajahan. Perang jaman dulu adalah adu fisik. Sekarang perang adalah adu teknologi dan adu psikologi.
II. TERUS BUAT APA PASUKAN KUAT & ELITE SEKARANG? INI 4 TUGASNYA :
Satelit bisa hancurin kota, tapi tidak bisa kuasai hati rakyat dan menjaga bendera. Drone hebat, tapi tidak bisa negosiasi sama kepala suku di hutan. Makanya pasukan elite tetap bestek dan wajib hukumnya.
Fungsinya ganti :
1. “Pemegang Kunci” Setelah Bom Dihujankan. Contoh USA vs Iran : Drone dan rudal Tomahawk hancurin pangkalan. Tapi siapa yang injak tanah Teheran dan kibarin bendera. Tetap Marinir dan SEAL. Rumusnya : Teknologi = buka pintu. Pasukan Elite masuk rumah dan duduki kursi. Tanpa Kopassus/Denbravo, wilayah itu direbut lagi besok sama milisi lokal.
2. Perang “Tidak Ada di Berita” Proxy War dan Operasi Senyap
Perang 2026 = 80% tidak tembak-tembakan. Tapi perang di Cyber : Satgas elite mematikan listrik negara lawan pakai virus.
Intelijen : Kopassus menyamar menjadi nelayan buat petakan pangkalan rudal.
Drone Kecil : Pasukan elite bawa drone FPV masuk gorong-gorong, hancurin tank $10 juta pakai drone $500. Ini kerjaan “elite”, orang biasa tidak sanggup dan tidak boleh tahu.
3. Penjaga “Gerbang Terakhir” Kedaulatan
Kalau satelit kita dibutakan, internet diputus, GPS di-jamming, siapa yang masih bisa perang? Pasukan elite yang dilatih hidup di hutan 3 bulan tanpa HP. Contoh : Jaman Belanda, Jenderal Soedirman sakit paru-paru tapi gerilya. Jaman sekarang, kalau Elon Musk matiin Starlink, pasukan elite kita harus bisa nembak pakai peta kertas dan kompas. Teknologi bisa mati. Mental elite tidak boleh mati.
4. “Diplomasi Laras Panjang”.
Pasukan elite = kartu truf diplomasi. Negara punya Kopassus, Denjaka, Kopasgat yang disegani dunia. Contoh nyata kenapa China tidak berani meremehkan Indonesia di LCS? Salah satunya karena Kopassus latihan bareng US Green Beret. Disegani kawan, ditakuti lawan. Ini Bung Karno bilang “Vivere Pericoloso”. Berani hidup berbahaya biar disegani.
III. PESAN BUNG KARNO BUAT PERANG MODERN :
Kalau Putra Sang Fajar, lihat perang USA vs Iran 2026, beliau pasti pidato : “He, tentara-tentaraku! Dulu kamu kuajak gerilya lawan bedil. Sekarang kujaga langit lawan satelit!” “Tapi ingat! Senjata boleh ganti, jiwa patriot tidak boleh mati!” “Trisakti di militer = 1. Berdaulat di Teknologi, 2. Berdikari di Alutsista, 3. Berkepribadian di Strategi”. Jangan jadi bangsa yang senjatanya beli, doktrinnya impor, beraninya cuma di kandang!”
Besteknya : Rudal dan drone itu alat. Pasukan elite itu nyawa. Alat bisa dibeli. Nyawa patriot harus dibina.
IV. KESIMPULAN BESTEK : BUAT INDONESIA 2026 :
Perang berubah : Dari darah dan bambu menjadi chip dan satelit. Tapi perang tetap rebutan hidup.
Pasukan elite makin penting : Karena musuh sekarang tidak nyata. Bisa virus, drone, berita hoax. Yang bisa lawan = manusia elite, cerdas, loyal, berani mati.
PR kita : Jangan cuma beli F-35 & rudal. Tapi cetak “Soedirman-Soedirman baru” yang jago cyber, jago drone, tapi tetap hafal Pancasila dan berani mati demi Merah Putih.
Setuju kalau TNI elite itu “senjata terakhir” bangsa? Teknologi bisa kalah, tapi mental gerilya dan Trisakti tidak boleh kalah. Itu senjata terakhir kita. Tidak ada di katalog Pentagon.
Foto: Marsma (P) Subandi Parto, sumber foto: MediaGetar.com






