Poliklinik RSUD Aceh Besar Lumpuh Total: Dokter Mogok Kerja Akibat Krisis Obat dan Tunggakan TPP

KN-ACEH BESAR – Layanan kesehatan di Poliklinik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Besar dilaporkan lumpuh total pada hari ini. Seluruh dokter spesialis menghentikan aktivitas pelayanan sebagai bentuk protes atas krisis obat-obatan yang berlarut serta ketidakjelasan hak keuangan tenaga medis.

​Pantauan di lokasi menunjukkan ratusan pasien yang hendak berobat terpaksa pulang dengan tangan kosong. Meski demikian, pihak rumah sakit memastikan bahwa Instalasi Gawat Darurat (IGD) tetap beroperasi secara normal demi menjaga keselamatan nyawa pasien yang dalam kondisi darurat.

​Krisis Obat Berlangsung Lima Bulan

​Aksi mogok massal ini dipicu oleh kosongnya persediaan sebagian besar obat-obatan esensial selama kurang lebih lima bulan terakhir. Kondisi ini dinilai telah menghambat proses medis secara signifikan dan membahayakan keselamatan pasien.

​Perwakilan dokter spesialis, dr. M. Irfan, Sp.P, menyatakan bahwa tenaga medis tidak dapat bekerja optimal tanpa dukungan logistik medis yang memadai.

​”Persoalan ini sudah berlangsung lama tanpa penyelesaian jelas. Keterlambatan obat-obatan dan hak pegawai terjadi karena tidak tersedianya anggaran yang memadai,” ujar dr. Irfan.

​Hak Tenaga Medis Belum Terbayar

​Selain masalah obat, para tenaga medis juga menuntut hak-hak finansial yang belum dipenuhi oleh pihak manajemen dan pemerintah daerah, di antaranya:

  • Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP): Belum dibayarkan sejak Januari 2025.
  • Jasa Medis (Jasmed): Mengalami keterlambatan pencairan sejak November 2025.
  • Penurunan Klaim: Jumlah kunjungan pasien yang menurun drastis turut berimbas pada minimnya klaim rumah sakit.

​Mandeknya Status BLUD

​Para tenaga medis menduga kekacauan administrasi dan keuangan ini berakar pada belum berjalannya status Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) secara efektif. Meski telah ditetapkan sejak 2024, realisasinya hingga kini dinilai lambat, sehingga sistem pengelolaan keuangan rumah sakit menjadi tidak fleksibel.

​Tuntutan Tenaga Medis

​Akibat aksi ini, sedikitnya 13 poliklinik ditutup hingga batas waktu yang belum ditentukan. Para tenaga medis menyampaikan tuntutan utama kepada Pemerintah Daerah dan DPRK Aceh Besar:

  1. ​Segera melakukan pengadaan obat-obatan yang kosong.
  2. ​Percepatan aktivasi status BLUD secara fungsional.
  3. ​Pelunasan tunggakan TPP dan percepatan pencairan jasa medis.
  4. ​Audiensi terbuka bersama Pemda dan DPRK untuk mencari solusi jangka panjang.

​Hingga berita ini diturunkan, pihak direktur RSUD Aceh Besar, dr. Bunaya, belum memberikan keterangan resmi lebih lanjut terkait langkah taktis yang akan diambil untuk mengatasi kekosongan layanan tersebut.

Related Posts

DJKI Tutup 1.004 Situs Bajakan, Perkuat Pelindungan Hak Cipta di Ruang Digital

KN-Jakarta – Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) melalui Direktorat Penegakan Hukum terus memperkuat upaya pelindungan hak cipta di ranah digital melalui penanganan situs pelanggaran kekayaan intelektual (KI). Sepanjang periode 1…

KKJ ACEH KUTUK KEKERASAN YANG MENIMPA JURNALIS SAAT MELIPUT REPRESIFITAS APARAT KEAMANAN TERHADAP PESERTA AKSI PENOLAKAN PERGUB JKA

KN-Banda Aceh, Sejumlah jurnalis di Banda Aceh mengalami kekerasan yang dilakukan oleh kepolisian sewaktu aparat keamanan mengambil tindakan represif terhadap peserta aksi demonstrasi yang mendesak pencabutan Pergub No. 2 Tahun…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *