KN-JAKARTA — Eks Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, memberikan catatan kritis sekaligus masukan bagi Presiden Prabowo Subianto terkait tingginya frekuensi perjalanan dinas ke luar negeri yang dilakukan oleh kepala negara.
Salah satu yang memicu sorotan publik adalah kunjungan kerja Presiden Prabowo ke Prancis baru-baru ini yang dinilai mendadak.
Pasalnya, mantan Menteri Pertahanan tersebut tercatat sudah dua kali menyambangi negara tersebut dalam waktu berdekatan, yakni pada Januari dan April lalu.
Melalui sebuah unggahan video di akun Instagram pribadinya pada Sabtu (30/5/2026), Dino mengaku terpanggil secara moral untuk memberikan pandangan jujur mengenai arah politik luar negeri Indonesia saat ini.
“Bapak Presiden telah menganugerahkan Bintang Mahaputera kepada saya yang berarti Bapak mempercayai kredibilitas dan pandangan saya mengenai politik luar negeri. Karena itu, saya juga merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan pesan apa adanya,” ujar Dino.
Disebut Paling Sering Melawat, Habiskan Ratusan Miliar
Berdasarkan kalkulasi yang dilakukannya, Dino menyebutkan bahwa intensitas perjalanan internasional Presiden Prabowo saat ini telah melampaui rata-rata pemimpin dunia lainnya, sebuah pola yang dinilai publik kurang lazim.
Dino mengimbau agar presiden tidak menganggap remeh kegelisahan masyarakat. Ia juga mengingatkan besarnya beban anggaran negara yang tersedot untuk membiayai rombongan kepresidenan.
Komponen biaya yang harus dikeluarkan negara dalam setiap kunjungan meliputi:
Akomodasi tim pendahulu (advance team)
Sewa/operasional pesawat kepresidenan
Hotel, logistik, dan konsumsi
Protokol dan pengamanan ketat
Uang harian seluruh delegasi
”Satu perjalanan ke luar negeri bisa keluar puluhan, bahkan ratusan miliar,” tutur Dino, seraya menambahkan bahwa sulit dibayangkan jika intensitas setinggi ini terus dipertahankan hingga 18 bulan ke depan.
Solusi Konkrit: Diplomasi Virtual Rp0 dan Skema ‘1 Plus 8’
Sebagai diplomat senior, Dino menawarkan dua solusi strategis agar esensi diplomasi tetap terjaga tanpa harus menguras kas negara:
1. Optimalkan Komunikasi Virtual
Dino menjelaskan bahwa substansi pertemuan bilateral tatap muka biasanya hanya berlangsung 1 hingga 2 jam, sementara sisa agendanya didominasi hal-hal seremonial.
“Jadi dengan satu video call yang bernilai Rp0, negara praktis dapat menghemat ratusan miliar dari perjalanan ke luar negeri dan hasilnya dari segi substansi juga kurang lebih sama,” katanya.
Ia mencontohkan Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, yang tetap bisa menjaga hubungan bilateral secara efektif melalui 17 kali sambungan telepon dengan Presiden AS Donald Trump tanpa harus menggelar pertemuan langsung.
2. Terapkan Konsep Pertemuan ‘1 Plus 8’
Daripada melakukan kunjungan bilateral terpisah ke setiap negara, Dino menyarankan Presiden Prabowo memaksimalkan kehadirannya di forum multilateral seperti PBB, G20, ASEAN, atau World Economic Forum. Di sana, presiden bisa menghadiri satu forum utama sekaligus menggelar sedikitnya 8 pertemuan bilateral paralel dengan kepala negara lain yang hadir.
Sebagai catatan penutup, Dino juga menyentuh isu manajemen penjadwalan. Ia mengaku mendengar informasi bahwa sebenarnya ada permintaan pertemuan dari sejumlah pemimpin negara lain yang telah diajukan kepada Presiden Prabowo, namun hingga kini belum mendapatkan respons.
Foto: TheAsiagroup.com







