KN-JAKARTA — Tudingan yang meragukan keberadaan cadangan beras nasional memicu reaksi keras dari internal Perum Bulog.
Sejumlah karyawan Perum Bulog melayangkan tantangan terbuka kepada akademisi sekaligus pengamat hukum tata negara, Feri Amsari, untuk datang langsung dan melakukan pemeriksaan fisik (stock opname) keberadaan beras di pergudangan milik Bulog.
Tantangan tersebut disampaikan menyusul beredarnya kritik yang memertanyakan transparansi data swasembada pangan.
Pihak Bulog menilai pernyataan tersebut tidak berdasar karena pengelolaan fisik cadangan beras nasional berada penuh di bawah kewenangan Bulog dan pencatatannya dapat dipertanggungjawabkan.
“Dalam waktu satu minggu, kami tunggu Bung Feri Amsari untuk berdiskusi dan mengecek langsung stok beras di gudang Bulog,” ujar Anto, karyawan Perum Bulog dengan masa kerja 15 tahun, melalui keterangan video, Selasa (11/8/2026).
Anto menegaskan bahwa urusan stok beras di lapangan bukanlah angka rekaan di atas kertas semata. Saat ini, total cadangan beras yang dikuasai Bulog di tingkat nasional mencapai 5,25 juta ton. Jumlah tersebut tersebar di lebih dari 1.500 kompleks pergudangan milik Bulog di seluruh Indonesia, ditambah ribuan gudang swasta yang disewa untuk menampung hasil serapan petani lokal. Untuk wilayah Jawa Timur saja, stok fisik beras tercatat menembus angka 1,386 juta ton.
Ia menambahkan bahwa pencatatan fisik barang di pergudangan selalu disandingkan dengan proses verifikasi ketat dan audit berkala oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) serta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
“Kita terbuka untuk melakukan diskusi dengan Bung FA bagaimana membuktikan bahwa swasembada pangan, swasembada beras itu nyata ada di gudang Bulog,” lanjutnya.
Reaksi serupa juga disampaikan oleh Ahmad Mukromin, pegawai Bulog yang telah mengabdi lebih dari 10 tahun. Ahmad menyatakan kesiapannya untuk berdebat terbuka dan mendampingi Feri Amsari meninjau gudang Bulog di daerah mana pun pilihan sang pengamat.
“Perlu FA ketahui bahwa dalam penyerapan gabah beras ini setiap saat Bulog akan diaudit sama BPK. Kalau FA tidak percaya dengan stok yang dikuasai Bulog, silakan datang ke gudang Bulog mana pun. Saya siap berdiskusi dengan Anda. Bulog yang lebih tahu dan lebih paham mengenai pengadaan gabah beras di lapangan,” tegas Ahmad.
Melalui tantangan terbuka ini, internal Perum Bulog berharap diskusi terkait ketahanan dan swasembada pangan nasional dapat didasarkan pada data dan kondisi riil di lapangan, bukan sekadar andaian spekulatif.
Foto: Factnews.co.id






