Dibantu banyak negara, Ukraina kalahkan Rusia di Kursk, Putin marah besar

KN. Pasukan militer Ukraina menerobos wilayah barat Rusia hingga membuat Kremlin (istana presiden Rusia) ketar-ketir, dalam serangan terbesarnya sejak invasi Rusia di Ukraina dimulai Februari 2022 lalu.

Ratusan prajurit Kyiv yang dilengkapi kendaraan lapis baja, artileri, dan drone dilaporkan menyapu wilayah Kursk, Rusia

Dilansir dari Al Jazeera, pasukan Ukraina bertempur di perbatasan dan mendekati Sudzha, sebuah kota berpenduduk 5.000 orang yang memiliki alun-alun berisi patung pendiri Uni Soviet Vladimir Lenin.

Panglima militer Ukraina, Oleksandr Syrskyii, mengatakan Kyiv telah menguasai sekitar 1.000 kilometer persegi Kursk dalam serangan tersebut.

Klaim Syrskyii itu dilaporkan oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melalui Telegram. Itu merupakan kali pertama Zelensky mengonfirmasi bahwa pasukan militernya beroperasi di dalam Kursk.

Dalam pernyataannya, Zelensky menegaskan perang saat ini kembali ke Rusia setelah Moskow mengobarkan pertempuran ke negara lain.

Serangan Ukraina ini disebut-sebut membuat Rusia terkejut. Tak lama setelah ‘invasi’ Ukraina ini, Moskow langsung mengerahkan pasukannya ke Kursk.

“Kendaraan berat telah dimuat ke trailer untuk dikirim segera ke daerah di mana formasi Angkatan Bersenjata Ukraina sedang diblokir. Pengerahan ini juga dilakukan untuk memastikan keamanan permukaan jalan,” demikian laporan militer, seperti dikutip Al Jazeera.

Rusia juga memerintahkan warga di kawasan tersebut untuk evakuasi pada Senin (12/8). Perintah itu dikeluarkan seiring dengan upaya Kremlin menahan serangan dari Ukraina.

Meski sempat dibuat heboh Ukraina, Rusia saat ini dilaporkan telah menstabilkan garis depan di wilayah Kursk.

Ukraina mungkin telah mengambil “langkah pertama” menuju perubahan strategi untuk mempertahankan diri dari invasi Rusia. Beginilah cara Jen Spindel, seorang profesor di Universitas AS di New Hampshire, menggambarkan perkembangan beberapa hari terakhir di Oblast Kursk di Rusia bagian barat. “Ukraina menunjukkan bahwa wilayah Rusia tidak lagi dapat diganggu gugat, dan Ukraina menyerangnya untuk mengalihkan perhatian pasukan Rusia dari pemboman dan penghancuran Ukraina,” kata Spindel.

Tentara Ukraina di Kursk (Reuters)

Olexandr Syrsky, Panglima Angkatan Darat Ukraina, Senin (12/8) untuk pertama kalinya mengomentari “operasi ofensif di wilayah Kursk”. Ukraina menguasai sekitar 1.000 kilometer persegi tanah Rusia, kata jenderal itu dalam sebuah pengarahan.

Presiden Rusia Vladimir Putin juga berkomentar lagi pada hari Senin tentang pertempuran di Kursk: “Musuh sedang mencoba untuk meningkatkan posisi negosiasinya di masa depan.” Namun hal ini tidak akan berhasil, menurut pemimpin Kremlin, tujuan utama Rusia saat ini adalah memukul mundur pasukan Ukraina.

Sumber-sumber Rusia melaporkan bahwa pasukan Ukraina memasuki wilayah Kursk pada 6 Agustus dan dengan cepat maju setidaknya 10 kilometer.

Washington, Berlin dan negara-negara lain telah lama melarang Ukraina menggunakan senjatanya untuk menyerang wilayah Rusia. Lampu hijau baru datang pada Mei 2024 setelah serangan Rusia di dekat Kharkiv. Namun, izin tersebut masih terbatas pada wilayah perbatasan langsung. Rudal seperti ATACMS dari AS masih hanya boleh ditembakkan ke wilayah pendudukan Ukraina.

Sejauh ini, AS bereaksi hati-hati terhadap kemajuan Ukraina. Jen Spindel berasumsi bahwa ada banyak panggilan telepon tingkat tinggi antara Kiev dan Washington untuk meredakan ketegangan.

Dia memuji Kiev dengan “kemenangan nyata dalam ruang informasi” karena semua orang akan melihat Kursk dan bukan Donbas, tempat tentara Rusia perlahan-lahan maju. Jika Ukraina mampu menguasai wilayah di Kursk lebih lama, hal ini akan memaksa Rusia untuk berkumpul kembali. Hal ini akan mengurangi tekanan di Donbas, kata Reisner.

Namun Ukraina mungkin juga bisa mengejar tujuan lain dengan kemajuan menuju Kursk, kata para ahli yang disurvei. Misalnya – seperti dugaan Putin juga – untuk mendapatkan posisi negosiasi yang lebih baik dengan Rusia. “Atau untuk meningkatkan moral pasukan Ukraina,” kata jurnalis Jerman dan pakar Ukraina Winfried Schneider-Deters kepada DW.

Kursk (DW)

Pentagon memasok beragam persenjataan ke Ukraina senilai 2,5 miliar USD. Antara lain peluru kendali anti pesawat terbang Javelin buatan Inggris (foto). Selain itu, AS merencanakan pengiriman 300 kendaraan lapis baja dan sejumlah meriam artileri yang bisa dikendalikan lewat GPS lengkap dengan amunisinya. Juga Washington akan kirim 11 helikopter transport tipe MI-17 buatan Uni Sovyet.

AS juga mengirim sekitar 300 Drone Switchblade yang dipuji gampang dikendalikan dan tidak perlu stasiun peluncur canggih di darat. Dengan bobot hanya beberapa kilogram Switchblade bisa diangkut dengan ransel dan punya daya jelajah hingga 10 km. Drone sekali pakai ini bisa dikendalikan secara presisi untuk diledakkan menghancurkan target musuh.

Pemerintah Jerman sudah menyetujui pengiriman senjata berat, berupa tank anti serangan udara jenis Gepard. Dikembangkan tahun 1970-an, tank ini selama tiga dekade jadi tulang punggung sistem pertahanan anti serangan udara Jerman. Dilengkapi meriam kaliber 23mm yang mampu menembus lapis baja, dulu terutama dirancang untuk melumpuhkan helikopter tempur MI-24 buatan Rusia.

Turki sudah memasok 20 drone tempur Bayraktar TB2 ke Ukraina. Penjualan drone ini pada tahun 2021 mulanya tidak ada kaitannya dengan perang yang dilancarkan Rusia. Tapi seiring perkembangan situasi di Ukraina, drone buatan Turki ini jadi salh satu senjata berat yang dikirim ke Ukraina dari salah satu anggota NATO.

Republik Ceko menjadi negara pertama anggota NATO yang mengirim senjata berat ke Ukraina. Bulan Januari 2022 seiring penguatan pasukan Rusia di perbatasan Ukraina, Praha mengirim amunisi dan granat anti panser. Setelah invasi Rusia, Republik Ceko mengirimkan tank tipeT-72 M4 buatan Uni Sovyet (foto) dan panser tipe MBP.

Polandia merencanakan pengiriman sejumlah pesawat tempur tipe MIG-29 buatan Rusia ke Ukraina lewat negara ketiga. Namun NATO menolak rencana ini, karena dengan itu berarti pakta pertahanan Atllantik Utara akan dianggap terlibat secara langsung dalam perang di Ukraina. Warsawa akhirny hanya mengirim senjata tempur dan amunisinya.

Anggota NATO lainnya seperti Inggris, Prancis, Belanda, Belgia dan Kanada sudah menjanjikan pengiriman bantuan persenjataan ke Ukraina.

“Langkah ini merupakan titik puncaknya dan sudah lama tertunda,” kata Schneider-Deters. Sebelumnya, negara-negara Barat – yang dipimpin oleh AS – mungkin akan menghentikan Ukraina melakukan hal tersebut karena takut perang akan semakin meluas, analisis Schneider-Deters. Menurutnya, “benar” jika Ukraina mengabaikan hal ini.

Jen Spindel yakin operasi di Kursk tidak ditujukan untuk mencapai Moskow. Tidak ada seorang pun yang tertarik dengan hal itu. Semakin jauh kemajuan tentara Ukraina, semakin besar risiko pasukannya akan terputus dari pasokan. “Untuk mencapai tujuannya, Ukraina tidak perlu maju jauh ke pedalaman Rusia,” kata pakar tersebut: “Cukuplah Ukraina maju ke wilayah yang berfungsi sebagai area persiapan dan tempat Rusia menyimpan senjatanya. “

“Ukraina juga harus menjaga keseimbangan dan mempertimbangkan mitra Baratnya,” papar Spindel. Sejauh ini, Ukraina telah mencapai kemajuan yang cukup di Rusia, namun belum cukup untuk memicu kekhawatiran yang jauh lebih besar Di Moskow. Secara keseluruhan, Spindel tidak mengharapkan adanya perubahan besar dalam perang sebagai akibat dari kemajuan tersebut. Dia berasumsi bahwa akan ada operasi serupa lebih lanjut; di mana Ukraina mengandalkan unsur kejutan. Tujuannya: “untuk menggoyahkan stabilitas di Rusia.”

Vladimir Putin (Foto diambil dari ANTARA News)

Presiden Vladimir Putin dilaporkan marah setelah pasukan Ukraina menginvasi balik Rusia dengan menguasai sebagian wilayah Kursk. Dia telah memerintahkan pasukan Moskow untuk mengusir tentara Kyiv dari wilayah tersebut.

Perintah pengusiran itu disampaikan pada hari Senin saat pihak berwenang Rusia mengatakan lebih dari 120.000 orang telah dievakuasi dari medan pertempuran di Kursk.

Kyiv melancarkan serangan mendadak ke wilayah Kursk di Rusia bagian barat sejak Selasa lalu, merebut lebih dari dua lusin permukiman dalam serangan lintas batas paling signifikan di tanah Rusia sejak Perang Dunia II.

Panglima Militer Ukraina Kolonel Jenderal Oleksandr Syrsky mengatakan kepada Presiden Volodymyr Zelensky dalam sebuah video yang diunggah Senin bahwa pasukannya kini menguasai sekitar 1.000 kilometer persegi wilayah Rusia dan terus melanjutkan “operasi ofensif”.

Putin mengatakan dalam sebuah pertemuan yang disiarkan televisi dengan pejabat pemerintah bahwa salah satu tujuan musuh yang jelas adalah untuk menabur perselisihan dan menghancurkan persatuan dan kohesi masyarakat Rusia.

Zelensky mengatakan kepada rakyat Ukraina dalam pidato malamnya bahwa serangan lintas batas itu “murni masalah keamanan”. “Merebut wilayah tempat tentara Rusia menyerang wilayah Sumy kami,” ujarnya.

Sekitar 121.000 orang telah mengungsi dari wilayah Kursk sejak dimulainya pertempuran, yang telah menewaskan sedikitnya 12 warga sipil dan melukai 121 lainnya, kata gubernur daerah setempat Alexei Smirnov dalam pertemuan dengan Putin.

Pihak berwenang di Kursk mengumumkan pada hari Senin bahwa mereka memperluas wilayah evakuasi mereka hingga mencakup distrik dengan sekitar 14.000 penduduk.

Putin mengatakan Rusia akan menanggapi dengan menunjukkan “dukungan bulat bagi semua yang dalam kesulitan” dan mengeklaim telah terjadi peningkatan jumlah orang yang mendaftar untuk bertempur.

“Musuh akan menerima balasan yang setimpal,” katanya.

Analis politik dan mantan diplomat di Kedutaan Besar AS di Moskow, Donald Jensen, mengatakan berdasarkan semua indikasi, Putin memperkuat tekadnya untuk menang.

Jensen mengatakan kepada program “Asia First” CNA bahwa Rusia melihat negosiasi sebagai alat untuk meraih kemenangan, bukan sarana untuk mencapai penyelesaian. Keinginan Ukraina untuk merdeka juga bertolak belakang dengan keinginan Rusia untuk memusnahkan Ukraina.

“Itu berarti ada jurang pemisah yang besar antara kedua belah pihak. Saya tidak berharap (pembicaraan perdamaian) akan terjadi dalam waktu dekat, kecuali satu pihak atau pihak lainnya runtuh di medan perang,” imbuh penasihat senior untuk Rusia dan Eropa di lembaga nirlaba US Institute of Peace tersebut.

Serangan itu tampaknya mengejutkan Kremlin. Militer Rusia mengerahkan pasukan cadangan, tank, pesawat, artileri, dan pesawat nirawak dalam upaya untuk menghancurkan pasukan Ukraina.

Namun, Rusia mengakui pada hari Minggu bahwa Ukraina telah menembus hingga 30 km ke wilayah Rusia di beberapa tempat.

Seorang pejabat keamanan Ukraina mengatakan kepada AFP, dengan syarat anonim selama akhir pekan: “Tujuannya adalah untuk memperluas posisi musuh, menimbulkan kerugian maksimum, dan mengacaukan situasi di Rusia karena mereka tidak dapat melindungi perbatasan mereka sendiri.”

Pejabat Ukraina mengatakan ribuan tentara Ukraina terlibat dalam operasi itu.

  • Related Posts

    Dongkrak IPM, Pemprov Lampung Luncurkan Inovasi “RMDku” untuk Akurasi Data Pendidikan

    KN-BANDAR LAMPUNG — Pemerintah Provinsi Lampung mengambil langkah strategis untuk meningkatkan capaian indikator makro pembangunan, khususnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM), melalui penguatan akurasi data kependudukan. Langkah ini diwujudkan melalui peluncuran…

    Gulf States Caught in the Crossfire of War with Iran

    KN. Shortly after Iran retaliated against the United States and Israel in response to Operations Epic Fury and Roaring Lion, Gulf states hosting U.S. bases became the target of Iranian…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *