Foto: Tenda buruh PT. FLOW yang ditabrak, sumber foto: Kade News
Stramed, Pengurus Pusat KASBI menyampaikan turut berduka cita mendalam atas meninggalnya 4 orang buruh PT.Flow Pasuruan Jawa Timur. Semoga almarhum mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Alloh SWT. Amin. Pagi ini kami mendengar kabar buruk dari Pasuruan Jawa Timur atas meninggalnya 4 orang buruh anggota SB Lomenik KSBSI yang bekerja di PT FLOW Pasuruan.
Menurut siaran pers KASBI tertanggal 10 Maret 2020, empat (4 ) orang buruh tersebut meninggal dunia karena “ditabrak” oleh kendaraan di Posko mogok kerja mereka di depan lokasi perusahaan. Di kabarkan juga bahwa beberapa orang luka-luka dan kini masih di rawat di Rumah Sakit. Sungguh sangat biadab, dan kejam orang peristiwa penabrakan para buruh tersebut.
Perlu di ketahui bahwa, awalnya para buruh sedang tidur di Posko Mogok kerja depan perusahaan, para buruh mogok kerja menuntut hak-hak normatif agar di jalankan pihak perusahaan, yaitu pembayaran upah sesuai SK UMK Kabupaten Pasuruan, selain itu buruh juga menuntut pemberlakukan jaminan sosial kepada seluruh buruh di PT.FlOW.
“Kami Pengurus Pusat Konfederasi KASBI mengecam keras peristiwa pembunuhan para buruh tersebut.
Kami menuntut kepada aparat Kepolisian Republik Indonesia dan Pemerintah agar segera mengusut tuntas dengan menangkap dan mengadili para pelaku dan dalang pembunuhan tersebut,” bunyi pernyataan sikap KASBI.
Sementara itu, pemerhati masalah Indonesia, TW Agora mengatakan, negara harus hadir dalam menyelidiki dan mendalami permasalahan ini, namun fakta ini menunjukkan bahwa ada beberapa kelompok masyarakat yang kurang senang kalangan buruh melakukan aksi mogok kerja bahkan menuruti ajakan pembangkangan sipil nasional, termasuk menghadiri konsolidasi akbar kelompok anti RUU Omnibus Law tanggal 23 Maret 2020.
“Fenomena ini juga ada menunjukkan berbagai kemungkinan termasuk kelompok “sakit hati” atas hasil Pilpres 2019, kelompok kepentingan yang “akan bermain” untuk kepentingan Pilkada 2020 sampai Pilpres 2024 mendatang, termasuk kelompok teror juga akan memanfaatkan momentum 23 Maret 2020, sehingga sebaiknya kelompok buruh dan gerakan mahasiswa tidak mengikuti agenda unjuk rasa 23 Maret tersebut, karena buruh dan mahasiswa akan menjadi “kuda tunggangan” bahkan “martir” bagi kelompok lainnya,” ujar TW Agora selanjutnya (Red)






