KN-WASHINGTON D.C, Memasuki satu bulan konflik terbuka antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran, perdebatan mengenai sisa kekuatan militer Teheran memanas. Laporan intelijen terbaru menunjukkan gambaran yang kontradiktif antara klaim kemenangan sepihak dengan realitas serangan yang masih terjadi di kawasan.
Intelijen AS: Sepertiga Persenjataan Iran Lumpuh
Lima sumber yang mengetahui laporan intelijen AS mengungkapkan bahwa Washington hanya dapat memastikan sekitar sepertiga (33%) dari total persenjataan rudal Iran telah hancur. Pejabat Pentagon menambahkan bahwa frekuensi serangan rudal dan drone Iran telah menurun drastis hingga 90% sejak awal konflik.
Data dari United States Central Command (CENTCOM) memberikan angka yang lebih spesifik:
Fasilitas Militer: Lebih dari 66% fasilitas produksi rudal, drone, dan galangan kapal militer Iran diklaim rusak atau hancur.
Armada Laut: Operasi militer bertajuk “Epic Fury” disebut telah menenggelamkan sekitar 92% kapal perang besar Iran.
Kondisi Bunker: Sepertiga persenjataan lainnya diduga terkubur di bawah reruntuhan terowongan bawah tanah akibat bom pemecah bunker (bunker buster).
Presiden Donald Trump dalam pernyataan publiknya tampak jauh lebih optimistis dibandingkan data teknis intelijennya sendiri. Ia mengeklaim Iran hampir kehabisan taji, meski tetap memberikan catatan waspada.
“Ancaman rudal dan drone Iran masih menjadi risiko bagi operasi AS di kawasan strategis Selat Hormuz,” ujar Trump, menegaskan bahwa target utama operasi ini adalah de-militerisasi total, termasuk pencegahan akses senjata nuklir.
Keraguan dari Dalam dan Luar Negeri
Narasi “pelemahan drastis” ini mulai mendapat tantangan. Anggota DPR AS, Seth Moulton, meragukan klaim tersebut dan menilai Teheran kemungkinan besar sengaja menyimpan sebagian kekuatan besar mereka (strategi reserve) dan belum mengerahkan seluruh aset strategisnya.
Senada dengan itu, pakar rudal dari Sciences Po, Nicole Grajewski, menilai AS kemungkinan melebih-lebihkan dampak serangan. Faktanya, Iran masih mampu meluncurkan serangan dari fasilitas Bid Kaneh, yang sebelumnya diklaim telah dibombardir berat oleh pasukan koalisi.
Analisis: “Propaganda vs Fakta Pangkalan yang Rusak”
Analis isu internasional dari Cersia, Tommy CK, melemparkan kritik tajam terhadap laporan yang masuk ke meja Trump. Ia menduga adanya laporan yang tidak akurat dari intelijen yang kemudian dikemas menjadi propaganda oleh Pentagon dan tokoh seperti Marco Rubio.
Tommy CK menunjuk beberapa bukti lapangan yang kontras dengan klaim AS:
Serangan ke UEA: Kamis lalu, Iran dilaporkan masih mampu meluncurkan 15 rudal balistik dan 11 drone ke wilayah Uni Emirat Arab.
Jangkauan Jauh: Iran dilaporkan sukses menyerang pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia, Samudra Hindia, yang secara geografis sangat jauh.
Kondisi Pangkalan AS: Sebanyak 13 pangkalan militer AS di kawasan Teluk dilaporkan rusak parah, sementara 14 pangkalan lainnya mulai ditinggalkan tentara AS karena ketakutan akan serangan presisi dari Iran serta sekutunya (Houthi, Hezbollah, dan Brigade Penjaga Darah Irak).
Kesimpulan Sementara
Meski kapasitas peluncuran Iran diperkirakan menyusut hingga 70% (berdasarkan data militer Israel yang menyebut 335 peluncur telah netral), Teheran terbukti masih memiliki stok sekitar 2.500 rudal balistik sebelum perang dimulai. Dengan kemampuan memulihkan senjata yang terkubur, ancaman dari “Benteng Persia” ini tampaknya masih jauh dari kata berakhir, berbeda dengan narasi optimistis yang dibangun di Washington.
Photo: ANTARA News Megapolitan







