Membangun Karakter dan Kebangsaan Melalui Program Ruang Bersama Indonesia

KN, KPPPA mempunyai tiga program utama yang melanjutkan kerja advokasi Menteri KPPPA sebelumnya, yaitu yang pertama, ruang bersama Indonesia sebagai kelanjutan dari program desa lurah ramah perempuan dan anak kedua meningkatkan pelayanan utama program Call Center dan ketiga terkait data pilah perempuan dan anak bapak ibu sekalian ruang bersama Indonesia ini spiritnya kami ambil dari inisiasi atau ide besar dari bapak Presiden pada saat kami retret di magelang kami di sana ada beberapa hal yang menjadi catatan kami, pertama bahwa bapak presiden mengumpulkan kami di magelang itu bukan di hotel berbintang di tenda tenda untuk membangun chemistry antara satu menteri dengan menteri yang lainnya karena apa? Karena Pak Presiden menyadari bahwa para menteri ini berangkat dari latar belakang yang berbeda. Ada yang pengusaha dan juga ada yang aktivis, maka untuk membangun chemistry ini kami dipertemukan selama tiga dalam empat hari dan benar chemistry ini sudah terbangun diantara kementerian sehingga ketika kami berkomunikasi by whatsapp aja sudah bisa saling berkoordinasi yang kedua pesan yang kami tangkap dari apa yang disampaikan oleh bapak Prabowo adalah bahwa tidak ada satupun kementerian yang bisa bekerja sendiri. Semuanya harus berkolaborasi dan bersinergi. Inilah makanya prioritas program kami yang pertama adalah ruang bersama Indonesia yang berbasis di desa yang ketiga bahwa Bapak Presiden sangat jelas komitmennya tidak ada toleransi untuk korupsi beliau tidak akan tebang pilih bagi mereka yang melakukan korosi untuk ditindak secara hukum yang keempat ini yang membuat kami bergetar ketika beliau menyampaikan bapak ibu menteri dan pejabat tinggi negara tidaklah setia kepada saya Prabowo Subianto. Tapi setialah kepada bangsa negara dan rakyat Indonesia. Menurut saya ini komitmen yang luar biasa komitmen kebangsaan dari seorang Presiden Republik Indonesia ini, demikian dikatakan Menteri PPPA, Arifatul Choiri Fauzi dalam diskusi yang diadakan oleh ICRP yang mengangkat tema “Menghapus Diskriminasi dan Kekerasan terhadap Anak”, Selasa (10/12/2024)

Ruang bersama Indonesia ini juga berangkat dari keprihatinan kami bahwa kondisi anak anak kita saat ini dalam keadaan yang tidak baik baik saja dari beberapa daerah yang kami kunjungi karena ada kasus yang viral maupun kasus yang tidak viral di situ ada penyebab salah satunya adalah pola asuh yang kedua adalah penggunaan medsos yang tidak bijaksana karena sebagian besar kekerasan terhadap anak ini rata-rata bersumber dari media sosial untuk itu kami merasa bahwa untuk melarang anak anak membatasi bermain gadget tidak bisa hanya sebatas melarang bagaimana kami memberikan solusi maka solusinya adalah di ruang bersama itu yang ada dalam bayangan kami, jelas Menteri PPPA.

Ketika mereka pulang sekolah, mereka berlomba lomba untuk datang ke ruang ruang bersama Indonesia ini karena di sana kami akan menyiapkan permainan tradisional yang berbasis kearifan lokal tradisional Aceh pasti akan berbeda dengan permainan tradisional Kalimantan Papua maupun Jawa kenapa kami pilih permainan tradisional. Permainan tradisional ini mempunyai filosofi yang sangat tinggi untuk menanamkan karakter anak Indonesia. Saya melihat bahwa permainan tradisional ini tidak ada yang sendiri mereka selalu berkelompok dan minimal dua orang itu menanamkan karakter anak Indonesia. Mereka harus bekerja sama. Mereka harus berkolaborasi, tidak boleh curang harus antri dan yang paling penting adalah menanamkan nilai-nilai Pancasila sejak dini, yaitu dalam bermain tidak membedakan apapun agamanya mau Kristen, Islam, Hindu, Budha, Konghucu. Kemudian dengan latar belakang ekonomi yang berbeda, bila tidak dicekoki oleh lingkungan sekitarnya, terang Arifatul Choiri Fauzi.

Oleh karena itu, permainan tradisional ini sebagai sarana menanamkan karakter sebagai anak Indonesia dan menanamkan nilai nilai Pancasila kita tetap bersama walaupun dalam perbedaan itu yang pertama yang kedua kami sudah silaturahmi dengan Kemendikti bahwa mahasiswa mahasiswa yang akan di wisuda sebelum di wisuda menjadi sarjana mereka untuk diwajibkan magang di ruang bersama Indonesia mereka yang berbasis sebagai bisa menerapkan ilmuunya di ruang bersama Indonesia yang berbasis desa ini untuk membantu memberikan dampingan secara psikologis begitu juga yang punya basic ilmu hukum kemudian yang punya basic kesenian mereka bisa mengajarkan anak anak kita menari menyanyi, kemudian bermain drama atau melukis yang nanti setiap akhir bulan, mereka akan tampil di balai desa untuk sebagai pengakuan jati diri bahwa mereka mereka ada dan mereka diakui yang ketiga, keprihatinan kami bahwa anak anak kita saat ini semakin tidak mengenal negerinya sendiri tidak mengenal tokoh tokoh dari Indonesia tokoh idola anak anak kita sekarang dari Korea dari Jepang, dari negara lainnya padahal kita punya Kartini kita punya Cut Nyak Dien kita punya Soekarno, punya Hatta, punya Panglima Sudirman, ungkap Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi.

Foto: Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi (tangkapan layar)

 

Related Posts

Peringati Mayday, Ratusan Ribu Buruh Akan Geruduk DPR RI

KN-JAKARTA, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) bersama Partai Buruh menegaskan bahwa peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) pada 1 Mei 2026 akan diikuti oleh ratusan ribu buruh di seluruh Indonesia,…

Tepis Isu Penghapusan JKA, Mualem: Kita Evaluasi Agar Lebih Tepat Sasaran

KN-BANDA ACEH, Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), memberikan klarifikasi tegas terkait isu yang beredar mengenai penghapusan program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA). Mualem menyatakan bahwa pemerintah sama sekali tidak menghapus program…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *