Membangun Kedaulatan Pangan Bersama untuk Masa Depan yang Berkelanjutan

KN, Kalau kita tidak mandiri, tidak swasembada, meskipun kita punya uang, banyak pelajaran, Covid itu kan ndak jaminan meskipun punya uang banyak bisa beli bahan pangan, karena negara-negara itu juga mementingkan kepentingan dalam negerinya masing masing dalam hal urusan pangan ini belum lagi ada El Nino Lanina Elino itu. Tahun lalu itu terjadi itu jadi kemarau panjang berkepanjangan. Kalau pas Lanina itu efek dari global woming itu kalau hujan lebat, kebanyakan hujannya jadi banjir, jadi iklim dan musim ini sangat mempengaruhi pertanian. bisa mengur gagal panen bahkan gagal tanam baru tanam aja udah gagal bulan Juni-Juli. Kebetulan saya juga beberapa kali ada kesempatan untuk berkunjung ke lapangan. Para petani juga merasakan betapa gagal tanam, baru tanam sudah dua minggu- sebulan karena tidak ada air akhirnya cakar tanah, dibajak lagi, tanam lagi karena tidak ada air nah, ini saya kira menjadi pelajaran yang sangat penting bagi kita kenapa persoalan pangan ini menjadi sudut sehingga kita harus apresiasi saya kira komitmen politik dari presiden kita terkait dengan swasembada pangan itu. Momentumnya tepat sekali. Kalau lima belas tahun yang lalu kita menyuarakan itu masih dalam koridor akademik saat ini momentum itu datang, komitmen politik yang kuat, demikian dikatakan Guru Besar Bidang Nutrisi dan Makanan Ternak Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA dalam Pidato Guru Besar yang mengangkat tema “Perjuangan Kedaulatan Pangan” yang diadakan oleh BKJ-GPTN, Forum 2045, dan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Jum’at (13/12/2024).

Maka saya kira kita patut bergotong Royong bekerja sama bagaimana merumuskan dan bahkan mewujudkan swasembada pangan khususnya Beras. Jadi saat ini di Kementerian Pertanian dan bagaimana peran dari sektor pertanian untuk mendukung produk Domestik Bruto dari target pertumbuhan ekonomi dan juga Produk Domestik Bruto kita sempat saya ini ada Blueprint Kementerian Pertanian 2024-2029 saya ingin menyampaikan dua hal yang pertama, adalah swasembada beras, bahkan bahkan untuk menjadi lumbung pangan dunia kalau kita menjadi lumbung pangan Indonesia, jelas Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA.

Kalau Indonesia bisa memenuhi kebutuhan pangannya, terutama beras, maka ini sudah menyelesaikan sebagian persoalan dunia karena Indonesia menjadi bagian dari dunia. Dengan jumlah penduduk yang tidak kecil karena jumlah penduduk nomor empat terbesar dunia maka dengan jumlah penduduk itu Tuh kalau kita memenuhi kebutuhan dalam negeri artinya kita. Menjadi salah satu lumbung pangan dunia. Nah, kalau berlebih tentu akan diekspor kemudian yang kedua ini terkait dengan daging dan susu program makan bergizi dan program minum susu hai gratis meskipun daya dukung kita ini belum cukup tapi komitmen politik ini sekali lagi yang saya kira sudah ada di depan kita maka menjadi peluang untuk pengembangan peternakan karena kita punya problem yang cukup serius adanya stunting anak anak kita. tentunya kita tidak ingin meninggalkan generasi yang sakit sakitan generasi yang kurus generasi yang hai tidak sehat, ungkap Prof. Ali Agus.

Related Posts

Cegah Korupsi dari Kampus, KPK dan Menag Bedah Bahaya Gratifikasi dalam Perspektif Islam

KN-JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berkolaborasi dengan para tokoh agama dan akademisi menggelar webinar Pendidikan Antikorupsi Pendidikan Tinggi (Dikti) pada Kamis (4/6/2026). Mengusung tema “Gratifikasi Dalam Perspektif Agama Islam”,…

BREAKING NEWS: KPK Gelar OTT di 3 Wilayah, Mantan Wamen Imipas Silmy Karim dan 7 Pejabat Imigrasi Resmi Ditahan

KN-JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) besar-besaran yang menjaring belasan pejabat di lingkungan Direktorat Jenderal Imigrasi. Dalam konferensi pers yang digelar di Gedung Merah Putih…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *