PRESIDEN MINTA TUNDA: KETUM GMKI PERTANYAKAN BALEG DPR RI YANG TETAP BAHAS VIRTUAL OMNIBUS CIPTAKER

Foto: Ketua Umum Pimpinan Pusat GMKI Korneles Galanjinjinay, sumber foto: Ist

Stramed–Jakarta, Momentum hari Buruh, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) melalui Akspel Forum for Young Leader mengelar diskusi virtual dengan tema May Day “Ciptakerja Ditunda, PHK Melanda, Pra-kerja Waspada” Sabtu (2/5/2020).

Diskusi Virtual ini di buka langsung oleh Korneles Galanjinjinay (Ketua Umum GMKI) serta dihadiri enam narasumber diantarannya Melki Laka Lena (Wakil Ketua Komisi IX DPR RI), Benny Rhamdany (Kepala BP2MI), Prof. Muchtar Pakpakhan (Tokoh Buruh), Timboel Siregar (Pengamat Tenaga Kerja & Jaminan Sosial), Ayub Manuel Pongrekun (Pengusaha Muda), Enny Sri Hartati (Ekonom Indef) dan dimoderatori oleh Christian Patricho Adoe (Pengurus Pusat GMKI).

Ketua Umum GMKI Korneles Galanjinjinay dalam sambutannya, menyatakan Presiden telah menyatakan stop pembahasan Omnibus Law Cipta kerja. Tapi kenapa Baleg DPR RI tetap ada membahas secara virtual.? Sebaiknya Pemerintah Bersama DPR RI focus dulu kepada pandemic yang melanda bangsa kita. Serta meminta pembahasan seluruh cluster Omnibus Law yang pro kontra bisa ditarik dan di bahas ulang dengan melibatkan seluruh akademisi serta terkhusunya untuk cipta kerja melibatkan kelompok buruh dan pekerja.

Lebih lanjut Korneles menambahkan data PHK dan Pekerja dirumahkan total sekitar 2,8 juta orang. Kita berharap ada peran ekstra sinergisitas pemerintah dan dpr ri untuk mampu mempengaruhi perusahaan perusahaan agar tidak sewenang wenang dalam memberi phk.

Artinya, Perusahaan-perusahaan bersar yang sudah puluhan tahun, buruh juga berkontribusi dalam memperkaya pengusaha pengusaha. Mungkin dua sampai tiga bulan perusahaan bisa membantu kelompok buruh dan pekerja untuk menyelesaikan masalahnya. termasuk juga pemerintah dalam kebijakan-kebijakan dan bantuan social yang dapat meringankan kelompok buruh dan pekerja yang dirumahkan serta yang terancam di PHK. Pungkas Ketua Umum Gmki

Lanjutnya, kartu pra-kerja seharusnya bisa melibatkan daerah. Dana yang cukup besar yang di ambil oleh platform platform pengusaha yang justru punya jaringan investasi dari luar. Jangan sampai ada investor yang memanfaatkan situasi ini untuk mencari keuntungan.

“ini masukan juga agar pemerintah dapat mengoptimalkan pemerintah daerah. Misalnya melalui Balai Latihan Kerja (BLK) atau kementrian terkait yang justru bisa menjangkau daerah daerah. Dan kita juga menanyakan kementrian ketenaga kerjaan tidak ada di situ lebih banyak kemenko Perekonomian lebih gencar. Seharusnya konseptor dari kemenko perekonomian sedangkan hal teknis serahkan kepada kementrian ketenaga kerjaan”. Tegasnya korneles. (AFFYL)

Related Posts

MPWAA Salurkan Ribuan Wakaf Al-Qur’an dari Tiga Negara untuk Korban Banjir Peureulak

​KN-ACEH TIMUR,  Majlis Penyerahan Wakaf Al-Qur’an Aceh (MPWAA) menyalurkan bantuan hasil donasi masyarakat dari tiga negara tetangga—Malaysia, Brunei, dan Singapura—untuk masyarakat terdampak banjir di Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, Sabtu…

Legitimasi Kuat: Kepuasan Publik 79,9% Buktikan Kebijakan Presiden Prabowo Menjawab Kebutuhan Riil Rakyat

​KN-JAKARTA, Tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang menyentuh angka 79,9 persen dinilai bukan sekadar simbolis. Hasil ini menjadi penanda kuat bahwa kebijakan pemerintah saat ini memiliki legitimasi sosial…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *