Tafsir Al Qur’an

KN. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepadaku, “Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan, dia bangun tidur malam hari, tetapi tidak mendirikan shalat”.

Diriwayatkan dari Ubadah bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang bangun malam, kemudian membaca doa, ‘Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian serta Dia berkuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah, Allah Maha Besar. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah’. Kemudian memohon ampun atau berdoa, maka doanya akan dikabulkan. Apabila dia Berwudhu kemudian shalat, maka shalatnya akan diterima.”.

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah Saw. mengajarkan kami shalat istikharah dalam menghadapi berbagai urusan, sebagaimana beliau juga mengajarkan kami surat di dalam al-Qur’an. Beliau bersabda, “Apabila kalian ragu-ragu dalam suatu perkara maka shalat sunatlah dua rakaat. Lalu berdoalah, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebaikan dari urusanku dengan ilmu-Mu, dan aku memohon kepastian dengan kodrat-Mu, aku memohon keutamaan-Mu yang agung. Bahwasannya Engkau Maha Kuasa, sedangkan aku tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui, sedangkan aku tidak dan Engkau Maha Mengetahui segala yang ghaib. Ya Allah, sekiranya Engkau tahu bahwa hal ini baik untukku, untuk agamaku, kehidupan dan akibat baik di dunia dan akhirat, maka takdirkanlah dia untukku, mudahkan dan berkahilah. Dan sekiranya Engkau tahu bahwa hal itu buruk untukku, untuk agamaku, kehidupan dan akibatku baik di dunia dan akhirat. Maka jauhkanlah dia dariku dan jauhkanlah aku darinya. Tetapkanlah bagiku kebaikan di mana pun lalu ridhailah aku di dalamnya'”. Kemudian sebutkanlah hajatnya.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah, dia berkata, “Rasulullah Saw. tidak memberikan penegasan yang sangat kuat terhadap shalat sunat, sperti penegasan beliau terhadap shalat sunat sebelum shubuh”.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah, dia berkata, “Rasulullah Saw. meringankan bacaan pada dua rakaat sebelum shalat shubuh, hingga aku bertanya apakah beliau hanya membaca surat al-Fatihah saja”.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, “Kekasihku (Rasulullah Saw.) mewasiatkan tiga hal yang tidak pernah aku tinggalkan hingga aku meninggal dunia, yaitu: ‘Puasa tiga hari dalam setiap bulan, shalat dhuha, dan tidur setelah melakukan shalat witir'”.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah Saw. tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum dhuhur dan dua rakaat sebelum shubuh.

Diriwayatkan dari Abdullah al-Muzani bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Shalatlah kalian sebelum shalat Maghrib”. Pada saat ketiga kalinya beliau berkata, “Bagi orang yang menghendakinya”. Karena beliau khawatir itu dianggap sunat.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu shalat yang dilakukan di masjid yang lain kecuali Masjidil Haram”.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Di antara rumahku dengan mimbarku terdapat taman dari taman-taman surga, dan mimbarku itu berada di atas tamanku”.

Diriwayatkan dari Zaid bin Arqam, dia berkata, “Ada di antara kami yang mengajak berbicara kepada temannya ketika dalam keadaan shalat, hingga turunlah ayat : ‘Peliharalah semua shalat(mu), dan peliharalah shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'”. (QS. al-Baqarah : 238). Kemudian kami diperintahkan tidak berbicara dalam shalat.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Saw. shalat dhuhur sebanyak lima rakaat. Ditanyakan kepada beliau, “Apakah jumlah rakaatnya ditambah ?” Beliau bertanya, “Kenapa ?” Sahabat berkata, “Engkau shalat sebanyak lima rakaat”. Maka beliau sujud dua kali setelah salam.

Diriwayatkan dari Abu Dzar bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Seorang malaikat yang diutus Tuhanku datang kepadaku”. Atau beliau berkata, “Aku diberi kabar gembira bahwa barangsiapa yang meninggal dunia dari umatku, sedangkan dia tidak menyekutukan Allah dengan apapun, maka dia akan masuk surga”. Aku (Abu Dzar) bertanya, “Walaupun berzina dan mencuri ?” Beliau bersabda, “Walaupun dia pernah berzina dan pernah mencuri”.

Diriwayatkan dari Abdullah bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dunia sedangkan dia menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka dia masuk neraka”. Aku (Abdullah) berkata, “Artinya orang yang tidak menyekutukan Allah dengan apapun masuk surga”.

Diriwayatkan dari al-Barra dan berkata, “Rasulullah Saw. memerintahkan tujuh perkara dan melarang tujuh perkara kepada kami. Beliau memerintahkan agar kami mengikuti rombongan jenazah, menjenguk orang yang sakit, memenuhi undangan, menolong orang yang teraniaya, menunaikan sumpah, menjawab salam dan mendoakan orang yang bersin. Beliau melarang kami menggunakan wadah dari perak, memakai cincin emas, mamakai kain sutera, pakaian dari sutera, memakan yang keras dan sutera tebal”.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. mengumumkan kematian raja Najasyi. Beliau menuju tempat shalat, lalu membuat shaf bersama mereka dan mendirikan shalat jenazah dengan empat kali takbir”.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Bendera itu diambil oleh Zaid kemudian dia terbunuh, kemudian diambil oleh Ja’far lalu dia terbunuh, kemudian diambil oleh Abdullah bin Rawahah dia juga terbunuh, sedangkan air mataku bercucuran. Kemudian bendera itu diambil oleh Khalid bin Walid tanpa diperintah, lalu dibukakanlah kemenangan”.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap muslim yang tiga anaknya meninggal sebelum balig, niscaya Allah akan memasukkannya ke surga, berkat rahmat Allah yang dilimpahkan kepada mereka (sehingga orang tua mereka turut mendapat rahmat atas kesabarannya untuk mencari ridha Allah)”.

(8431)
Diriwayatkan dari Ummu ‘Athiyyah al-Anshari bahwa ketika putri beliau meninggal dunia, beliau menemui kami dan berkata, “Mandikanlah oleh kalian dengan hitungan yang ganjil tiga kali, lima kali atau lebih dari itu. Pakailah air dan daun bidara dan pada basuhan terakhir sertakan kapur atau sejenisnya. Jika kalian telah selesai maka izinkanlah aku melihatnya”. Setelah selesai kami pun memberitahukan beliau. Beliau memberikan kain dan berkata, “Bungkuslah jasadnya”.

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa beliau bersabda, “Mulailah dengan anggota tubuh yang kanan dan anggota wudhunya terlebih dahulu”. Ummu Salamah berkata, “Dan kami menyisirnya sebanyak tiga kali”.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa jasad Rasulullah Saw. dikafani dengan tiga lapis kain Yaman yang berwarna putih, tanpa pakaian dan tanpa sorban”.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ketika seorang laki-laki sedang wukuf bersama Rasulullah Saw. di Arafah, tiba-tiba dia jatuh dari atas untanya sehingga mematahkan lehernya. Rasulullah Saw. bersabda, “Mandikanlah jasadnya dengan air dan daun bidara, kafani dia dengan dua lapis, jangan mengawetkannya ataupun menutup kepalanya. Karena dia akan dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan talbiyah”.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa ketika Abdullah bin Ubay (salah seorang tokoh munafik) meninggal dunia, putranya datang kepada Rasulullah Saw., dia berkata, “Wahai Rasulullah Saw., berikanlah kami kain untuk mengkafani ayahku, aku mohon shalatkanlah jasadnya dan mohonkanlah ampunan untuknya”. Maka beliau memberikan kain untuk kafan dan berkata, “Biarkanlah aku menshalatkannya”. Ketika beliau hendak menshalati mayatnya, Umar menarik beliau seraya berkata, “Bukankah Allah melarangmu menshalatkan orang-orang munafik ?”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku berada dalam dua pilihan”. Kemudian Umar membacakan ayat : “Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka”. (QS. -at-Taubah : 80). Tetapi beliau tetap menshalatkannya, lalu turunlah ayat : “Dan janganlah kamu sekali-kali menyembayangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya”. (QS. at-Taubah : 84).

Diriwayatkan dari Khabbab bahwa kami hijrah bersama Rasulullah Saw. demi mengharapkan keridhaan Allah dan pahala kami, kami serahkan kepada Allah di antara kami ada yang meninggal dunia dan belum sempat memakan sedikitpun dari keberhasilannya seperti Mush’ab bin Umair, diantara kami juga ada yang memetik hasilnya. Ada juga yang terbunuh saat pernah Uhud, saat itu kami tidak mendapati kain untuk mengkafaninya kecuali selembar kain yang pendek. Jika kami menutupi kepalanya, maka kakinya tidak tertutupi, dan jika kami tutupi kakinya maka kepalanya tidak tertutupi. Maka Rasulullah Saw. memerintahkan kami agar menutupi bagian kepalanya, dan sebagai penutup kakinya adalah rumput atau dedaunan.

Diriwayatkan dari Umar bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya mayat itu akan disiksa karena tangisan keluarganya atas dirinya”. Hal itu disampaikan kepada ‘Aisyah setelah meninggalnya Umar, ia (‘Aisyah) berkata, “semoga Allah merahmati Umar, demi Allah, Rasulullah Saw. tidak mengatakan bahwa Allah akan menyiksa mayat seorang muslim karena tangisan keluarganya, akan tetapi beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah akan menambahkan siksaan kepada orang kafir karena tangisan keluarganya atas dirinya'”. ‘Aisyah melanjutkan, “Cukuplak bagi kalian dengan membaca al-Qur’an yang menyatakan : “Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain”. (QS. al-Isra’ : 15).

Diriwayatkan dari ‘Aisyah, dia berkata, “Rasulullah Saw. melewati seorang Yahudi yang menangisi kuburan keluarganya”. Beliau bersabda, “Mereka menangisinya dan sesungguhnya mayat yang ditangisinya disiksa di dalam kuburannya”.+

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid bahwa putri Rasulullah Saw. mengirim utusan kepada Rasulullah untuk mengabarkan bahwa putranya (cucu beliau) meninggal dunia. Beliau mengirim utusan untuk menyampaikan salam dan bersabda, “Sesungguhnya kita semua milik Allah tidaklah dia mengambil sesuatu melainkan apa yang telah dititipkan-Nya. Dan segala sesuatu telah ditetapkan ajal di sisi-Nya. Hendaklah engkau bersabar”. Putrinya mengirim utusan agar beliau mendatanginya. Maka Rasulullah Saw. berdiri, saat itu ada juga Sa’ad bin Ubadah, Mu’adz bin Jabbal, Ubay bin Ka’ab, dan Zaid bin Tsabit disertai beberapa orang lainnya. Anak kecil yang sudah menjadi mayat itu diangkat dan diberikan kepada Rasulullah Saw. jiwa beliau pun bergetar. Beliau meneteskan air mata hingga meleleh di pipinya. Sa’ad berkata, “Wahai Rasulullah, apa ini ?” Beliau bersabda, “Ini adalah air mata rahmat yang dijadikan oleh Allah d hati setiap hamba-Nya. Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang”.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, dia berkata, “Sa’ad bin Ubadah menderita demam tinggi. Rasulullah Saw. menjenguknya bersama dengan Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abu Waqash dan Abdullah bin Mas’ud. Ketika beliau masuk, dia sedang dalam keadaan pingsan. Beliau bertanya, “Apakah dia sudah tiada ?” Keluarganya menjawab, “Beliau, wahai Rasulullah”. Beliau menangis, melihat beliau menangis, maka orang-orang pun ikut menangis. Beliau bersabda, “Ingatlah, sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa karena lelehan air mata, tidak juga karena kesedihan hati, tetapi karena ini”. Kata beliau sambil menunjukkan lidahnya. Beliau menambahkan, “Seseorang yang meninggal itu disiksa karena ratapan tangis sanak keluarga (nya) kepadanya”.

Diriwayatkan dari al-Mughirah, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, ‘Sesungguhnya orang berdusta atas diriku tidak seperti mendustakan seseorang yang lain. Barangsiapa yang dengan sengaja berdusta atas nama diriku, hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di dalam neraka’. Aku juga mendengar beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang meratapi mayat, maka mayat tersebut akan disiksa karena ratapannya itu'”

Diriwayatkan dari Abdullah bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak termasuk umat kami orang yang menampar-nampar pipi dan merobek-robek pakaian, dan berseru dengan seruan jahiliyah (ketika ditimpa kematian keluarganya)”.

Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqash, dia berkata, “Rasulullah Saw. menjengukku ketika aku sakit, yaitu pada tahun dilaksanakannya haji Wada’. Aku berkata, ‘Aku sedang diserang penyakit yang parah, bagaimana menurut pandangan engkau. Karena aku mempunyai harta yang banyak dan hanya mempunyai satu orang ahli waris perempuan. Apakah aku harus mensedekahkan dua pertiga hartaku ?’ Beliau menjawab, ‘Tidak’. Aku bertanya lagi, ‘Bagaimana kalau setengahnya ?’ Beliau bersabda, ‘Tidak’. Sepertiga saja sudah cukup banyak. Sesungguhnya jika meninggalkan keluargamu dalam keadaan kaya dan berkecukupan itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan fakir dan kesusahan. Dan tidaklah engkau menafkahkan harta karena Allah melainkan engkau akan memperoleh ganjarannya, termasuk apa yang engkau berikan kepada istrimu’. Aku berkata lagi, ‘Wahai Rasulullah, aku akan tertinggal oleh sahabat-sahabatku’. Beliau bersabda, ‘Sungguh engkau tidak akan tertinggal. Tidaklah engkau mengerjakan amal salih melainkan akan bertambah derajat dan kehormatan. Sekalipun engkau tertinggal, sehingga banyak kaum yang dapat mengambil manfaat darimu dan membahayakan sebagian kaum yang lain. Ya Allah, lewatkanlah perjalanan hijrah para sahabatku dan jangan engkau kembalikan mereka ke belakang, tapi tidaklah mengapa bagi Sa’ad bin Khawalah'”. Beliau meratapinya dan mengharapkan agar dia meninggal di Makkah.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa ketika korban terbunuh, yaitu Ibnu Haritsah, Ja’far dan Ibnu Rawahah dihadapkan kepada Rasulullah Saw. beliau duduk dalam kesedihan. Aku menyaksikannya dari daun pintu. Seseorang menghampiri beliau dan berkata, “Istri Ja’far dan lainnya menangis sejadi-jadinya”. Beliau menyuruhnya agar melarang mereka. Orang itu pun pergi, lalu datang kembali dan mengabarkan bahwa mereka tetap tidak mematuhi perintah beliau. Beliau bersabda, “Laranglah mereka”. Orang itu kembali untuk ketiga kalinya dan berkata, “Demi Allah, mereka sudah tidak terkendalikan, ya Rasulullah”. Aku kira beliau bersabda, “Sumbatkan tanah ke dalam mulut mereka”.

Diriwayatkan dari Anas bahwa putra Abu Thalhah meninggal dunia, saat itu Abu Thalhah sedang keluar. Ketika istri Abu Thalhah mendapati putranya telah meninggal, dia mempersiapkan sesuatu, dia menyambut kedatangan Abu Thalhah yang baru datang. Abu Thalhah berkata, “Bagaimana keadaan putra kita ?” Istrinya menjawab, “Jiwanya telah tenang dan aku berharap dia beristirahat dengan nyaman”. Akhirnya mereka “tidur bersama” dan paginya Abu Thalhah mandi besar. Ketika dia hendak keluar, istrinya memberitahukan bahwa putranya telah meninggal dunia. Maka dia pun shalat shubuh bersama Rasulullah Saw. Abu Thalhah menceritakan apa yang dialaminya bersama istrinya kepada beliau. Beliau bersabda, “Allah memberkahi malam kalian berdua”. Seseorang dari kaum Anshar berkata, “Aku menyaksikan kemudian bahwa Abu Thalhah mempunyai sembilan orang anak yang kesemuanya termasuk qurra’ul qur’an (ahli al-Qur’an)”.

Diriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Aku menemui Abu Saifi al-Qaini bersama Rasulullah Saw., dia adalah wanita yang menyusui Ibrahim, putra beliau. Setelah beberapa lama kami menemuinya lagi, yaitu ketika Ibrahim meninggal dunia, kedua mata beliau mengalihkan air mata”. Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Engkau menangis wahai Rasulullah?”. Beliau bersabda, “Ini adalah air mata kasih sayang. Mata itu mengalirkan air mata dan hati bisa bersedih dan kita tidak mengatakan apa pun kecuali yang diridhai oleh Tuhan kita. Dan sesungguhnya berpisah dengan engkau wahai Ibrahim sangat menyedihkan”.

Diriwayatkan dari Ummu ‘Athiyah, dia berkata, “Pada saat bai’at kami diambil janji untuk tidak meratap. Tidak ada dari kami yang menepatinya kecuali empat orang wanita : Ummu Sulaim, Ummul ‘Ala, putri Abu Sabrah, istri Mu’adz dan istri Mu’adz yang lain”.

Diriwayatkan dari Amir bin Rabi’ah bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila kalian melihat jenazah, jika kalian tidak berjalan mengikutinya, maka hendaklah berdiri hingga rombongannya berlalu, atau diletakkan sebelum ia berlalu”.

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa lewat di hadapan kami rombongan yang membawa jenazah. Kemudian Rasulullah Saw. berdiri untuk menghormatinya, kami pun ikut berdiri. Kami berkata kepada beliau, “Itu adalah jenazah orang Yahudi”. Beliau bersabda, “Jika kalian melihat usungan yang membawa jenazah orang Yahudi, maka berdirilah”.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata, “Apabila jenazah telah disiapkan dan para laki-laki sudah mengangkatnya ke atas pundaknya, apabila mayat itu shalih, maka dia akan berkata, ‘Bawalah aku secepatnya’. Dan jika dia tidak shalih, dia berkata, ‘Celakalah kalian, mau dibawa kemana aku'”. Suaranya terdengar oleh seluruh makhluk, kecuali manusia, jika manusia mendengarnya tentu dia akan terjatuh pingsan.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Segerakanlah pengurusan jenazah. Jika ia adalah orang yang shalih maka kalian telah menyegerakan kebaikan untuknya dan jika bukan orang shalih maka kalian telah melepaskan keburukan dari pundak kalian”.

  • Related Posts

    Pesantren Al Zahrah Yudisium 89 Santri Akhir, Pimpinan: Kecerdasan Intelektual Saja Tidak Cukup

    KN. Pesantren Modern Al Zahrah Bireuen kembali menggelar yudisium untuk santri Angkatan ke XXV, di ruang majelis guru pesantren setempat, Ahad pagi (19/4/2026). Kepala Bidang Pendidikan dan Pengajaran Pesantren Modern…

    Tafsir Al Qur’an

    KN. Diriwayatkan dari ‘Aisyah, dia berkata, “Suatu ketika, Saudah (salah seorang istri Nabi) keluar untuk membuang hajat, saat itu telah turun perintah menggunakan kerudung untuk kaum perempuan. Dia bertubuh gemuk…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *