KN-TEHRAN, Perang propaganda antara Iran versus Amerika Serikat-Israel telah menjadi salah satu dimensi paling rumit dan canggih dalam konflik Timur Tengah tahun 2025-2026. Eskalasi militer langsung yang dimulai sejak Operasi Epic Fury pada 28 Februari 2026 tidak hanya melibatkan rudal, drone, serangan udara, dan operasi siber, tetapi juga pertarungan sengit di ranah kognitif dan digital. Kedua pihak bertarung mati-matian untuk mengendalikan narasi global, memengaruhi opini publik dunia, legitimasi internasional, serta dukungan politik domestik dan internasional. Bagi analis intelijen, tantangan utama adalah *_“fog of information”_*— kabut informasi yang sengaja diciptakan melalui banjir konten AI-generated, deepfake, video game footage yang didaur ulang, serta kampanye disinformasi terkoordinasi. Kabut ini membuat pembedaan antara fakta dan fabrikasi semakin sulit, bahkan bagi profesional.
Konflik ini sering disebut sebagai *“perang AI pertama”* atau _“AI-native information warfare”_, di mana teknologi generatif AI memungkinkan produksi konten palsu dalam skala industri. Hanya dalam dua minggu pertama eskalasi, The New York Times mengidentifikasi lebih dari 110 deepfake unik yang menyampaikan narasi pro-Iran. Akun-akun media sosial, termasuk yang memiliki verifikasi blue check, berhasil mengumpulkan lebih dari 1 miliar views hanya dari konten AI-generated.
*Karakteristik Perang Propaganda Kedua Belah Pihak*
Iran menerapkan strategi *asimetrik* di ranah informasi. Melalui media negara seperti IRIB, Fars News, dan Tasnim, serta jaringan proxy (Hizbullah, Houthi), Iran membangun narasi utama: “perlawanan terhadap imperialisme Zionis-AS”, penekanan pada korban sipil, serta solidaritas umat Islam. Propaganda Iran banyak memanfaatkan *AI-generated content*: deepfake video rudal menghantam Tel Aviv, kehancuran pangkalan AS, gambar satelit palsu yang menunjukkan “kemenangan Iran”, serta video tentara AS yang ditangkap atau kapal induk USS Abraham Lincoln yang hancur. Banyak konten ini disebarkan dalam berbagai bahasa, termasuk Spanyol, untuk menjangkau audiens Latin Amerika. Jaringan Rusia dan China sering berperan sebagai amplifier, menyebarkan narasi melalui bot networks dan media negara mereka.
Sebaliknya, AS-Israel lebih menekankan narasi “ancaman nuklir Iran”, “hak membela diri”, serta “operasi presisi” terhadap target militer. Media Barat cenderung mengamplifikasi sumber resmi mereka, sementara upaya melemahkan mesin propaganda Iran dilakukan melalui serangan siber, delegitimasi, dan _counter-messaging_. Kedua pihak saling tuding menggunakan footage daur ulang dari video game, foto lama, atau deepfake. Iran juga dituduh memproduksi konten yang mengejek pemimpin AS dan Israel, sementara pihak Barat kadang menyebarkan narasi tentang protes anti-rezim di Iran yang dimanipulasi.
Ciri khas perang ini adalah *“liar’s dividend”*: ketika konten palsu terdeteksi, pihak yang tertangkap bisa mengklaim “itu deepfake” untuk membantah bukti asli. Bahkan video serangan nyata di Tehran sempat dipertanyakan keasliannya karena hasil deteksi AI yang bertentangan.
*Kesulitan Utama Analisis Intelijen*
Analis intelijen menghadapi tantangan multilayer yang saling terkait, meliputi aspek teknis, kognitif, struktural, dan operasional:
1. *_Information Overload_ dan _Fog of War Digital_*
Media sosial dibanjiri ribuan konten per jam: bot networks, akun palsu, AI slop (konten sampah AI), serta kampanye terkoordinasi. Internet shutdown di Iran dan pembatasan akses jurnalis memperburuk kabut perang. Membedakan misinformation (kesalahan tanpa niat), disinformation (sengaja), dan malinformation menjadi hampir mustahil dalam waktu real-time. Informasi vakum yang tercipta justru mempercepat penyebaran fabrikasi.
2. *_Sophistication_ Teknologi AI dan Deepfake*
Alat AI generatif membuat konten semakin realistis, menghilangkan tanda-tanda klasik seperti tangan cacat atau inkonsistensi fisik. Deteksi tool sering bertentangan satu sama lain — satu analis menemukan bukti AI, sementara yang lain tidak. Forensik digital mahal, lambat, dan tidak selalu konklusif. Gap antara kemampuan produksi disinformasi dan kemampuan deteksi semakin lebar, menciptakan era di mana “kebenaran” sulit diverifikasi dengan cepat.
3. *Bias Kognitif dan Groupthink Analis*
Analis manusia rentan terhadap *_confirmation bias_* (mencari bukti yang mendukung keyakinan awal), *_mirror imaging_* (mengasumsikan musuh berpikir seperti kita), serta *_anchoring bias_*. Polarisasi geopolitik memperburuknya: analis di Barat cenderung lebih percaya narasi AS-Israel, sementara analis di negara lain rentan terhadap narasi anti-Barat. Groupthink di dalam institusi intelijen dapat menghasilkan penilaian kolektif yang keliru.
4. *Sumber Tercemar dan Propaganda Model*
Sumber terbuka (OSINT) sering tercemar oleh media proxy, akun yang menyamar sebagai warga biasa, serta kerjasama aktor negara ketiga (Rusia, China, Korea Utara). HUMINT (intelijen manusia) sangat sulit diakses di Iran yang tertutup. Framing media antar negara sangat berbeda: Al Jazeera cenderung menyoroti agresi Israel, sementara CNN lebih condong ke narasi ancaman Iran.
5. *Kecepatan dan Skala Operasi _Cognitive Warfare_*
Propaganda bergerak real-time melalui burst posting dan jaringan terkoordinasi. Tujuan bukan hanya memenangkan narasi, tetapi juga menciptakan tekanan psikologis, memengaruhi keputusan pemimpin, serta memperburuk polarisasi domestik di negara lawan. Mengukur dampak sebenarnya terhadap opini publik atau kebijakan sangat sulit.
6. *Aspek Hukum, Etis, dan Keamanan*
Membedakan antara _strategic communications_ resmi dengan operasi pengaruh tersembunyi sering kabur. Verifikasi independen berisiko tinggi bagi jurnalis dan analis, sementara platform media sosial kesulitan menegakkan kebijakan pelabelan konten AI.
*Kesimpulan*
Perang propaganda Iran versus Amerika Serikat-Israel menggambarkan pergeseran paradigma perang modern yang mendalam. Di era AI, kemenangan tidak lagi ditentukan semata oleh superioritas kinetik atau teknologi militer, melainkan oleh siapa yang lebih berhasil mengendalikan narasi, persepsi, dan ruang kognitif masyarakat global. _“Fog of information”_ yang diciptakan secara sengaja ini bukan sekadar gangguan sampingan, melainkan senjata strategis yang mampu membingungkan analis intelijen, jurnalis, pembuat kebijakan, hingga masyarakat sipil.
Bagi komunitas intelijen, tugas tradisional “mencari kebenaran” telah berubah menjadi seni menavigasi kabut informasi yang tebal. Dibutuhkan pendekatan baru: integrasi AI untuk deteksi dini (dengan kewaspadaan terhadap false positive), analisis multi-sumber yang ketat, serta metodologi seperti Analysis of _Competing Hypotheses_(ACH) untuk mengurangi bias. Namun, teknologi saja tidak cukup; kemampuan manusia untuk tetap objektif dan kritis di tengah banjir disinformasi menjadi semakin krusial.
Konflik ini menjadi peringatan bagi seluruh dunia bahwa perang hibrida di masa depan akan semakin didominasi oleh elemen informasi dan kognitif. Tanpa investasi serius pada ketahanan informasi, literasi digital, serta kerjasama internasional yang bijak, kabut perang ini berpotensi membuat keputusan strategis keliru, memperdalam polarisasi, dan memperburuk konflik nyata. Pada akhirnya, di tengah banjir AI-generated content, kemampuan untuk bertahan pada fakta, konteks, dan verifikasi independen tetap menjadi benteng terakhir pertahanan terhadap manipulasi massal.
*Daftar Pustaka*
– Foundation for Defense of Democracies (FDD). _“Deepfakes on the Front Lines: Iran’s AI Disinformation Campaign”_ (19 Maret 2026).
– The New York Times. _“Cascade of A.I. Fakes About War With Iran” (2026)._
– Carnegie Endowment for International Peace. _“Iran-Israel AI War Propaganda Is a Warning to the World” (2025)_.
– Institute for National Security Studies (INSS) & Cyabra. _“The AI Propaganda War: Iran’s Digital Battlefield”_ (Maret 2026).
– Erkan Saka. _“Disinformation and War Propaganda in the Iran-Israel-US Conflict” & “Disinformation in the Iran-Israel-US War”_ (Maret 2026).
*✒️Sofyan Tsauri*
Photo: ANTARA News Megapolitan







