Gencatan senjata AS-Iran rapuh, tapi perlu untuk ruang de-eskalasi kekerasan.

KN-TEHERAN, “Meski disambut banyak pihak, gencatan senjata antara AS dan Iran belum bisa diharapkan untuk menciptakan perdamaian permanen antara AS-Israel dan Iran. Gencatan senjata itu baik secara subtantif maupun perkembangan di lapangan masih sangat rapuh. Meski demikian, gencatan senjata itu perlu untuk menciptakan ruang bagi kedua belah pihak untuk lakukan de-eskalasi kekerasan”, demikian disampaikan oleh Dr. Darmansjah Djumala, Dewan Pakar BPIP Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, terkait gencatan senjata antara AS dan Iran yang disepakati pada 8 Maret 2026. Gencatan senjata disepakati hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu ancaman AS terhadap Iran yang akan menghancurkan infrastruktur vital Iran, termasuk pembangkit listrik di Pulau Kharg, jembatan dan infrastruktur sipil lainnya.

Dimintai pendapatnya, Dubes Djumala  menyampaikan apresiasinya dan menyambut baik kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang berlaku selama dua minggu. Kesepakatan ini merupakan langkah penting untuk meredakan eskalasi konflik yang dalam beberapa waktu terakhir telah meningkatkan ketegangan kawasan serta mengancam stabilitas global. Lebih jauh Dr. Djumala, yang pernah bertugas sebagai Dubes RI untuk Austria dan PBB di Wina, mengapresiasi komitmen kedua pihak untuk menghentikan sementara aksi militer dan membuka ruang bagi jalur diplomasi. Upaya ini sejalan dengan seruan komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang menekankan pentingnya penghentian permusuhan guna melindungi warga sipil dan menciptakan kondisi yang kondusif bagi perdamaian yang berkelanjutan.

Namun demikian, ditegaskan oleh Dubes Djumala lebih lanjut,  gencatan senjata yang bersifat sementara dan terbatas ini sangat rapuh. Dinamika konflik di lapangan yang kompleks, ketidakpercayaan yang mendalam antara pihak yang bertikai, serta syarat-syarat yang melekat pada kesepakatan – termasuk isu strategis seperti keamanan jalur pelayaran, penghapusan sanksi ekonomi dan pengayaan nuklir – dapat sewaktu-waktu memicu kembali eskalasi apabila tidak dikelola dengan hati-hati. Alih-alih menciptkan perdamaian, periode dua minggu negosiasi, jika tidak diniatkan benar-benar untuk mengakhiri permusuhan, justru akan menjadi pemicu konflik yang lebih tajam, karena perang kali sudah mewujud dalam serangan fisik-militer antara AS-Israel versus Iran. Ditegaskannya, periode dua minggu ke depan menjadi sangat krusial. Dunia perlu mendorong kedua pihak untuk memanfaatkan momentum ini secara maksimal guna melanjutkan negosiasi yang konstruktif, inklusif, dan berorientasi pada penyelesaian jangka panjang. Diplomasi harus menjadi jalan utama, menggantikan logika konfrontasi militer.

“Masyarakat dunia yang cinta damai perlu  menyerukan kepada seluruh pihak terkait, termasuk aktor regional dan internasional, untuk terus mendukung proses dialog ini serta menahan diri dari tindakan yang dapat memperkeruh situasi. Gencatan senjata ini diharapkan tidak hanya sebagai jeda sementara dalam konflik, melainkan menjadi titik awal menuju kesepakatan damai yang lebih komprehensif, berkelanjutan, dan berlandaskan hukum internasional”, demikian kata Dubes Djumala dalam keterangan tertulisnya.***

  • Related Posts

    Memanasnya hubungan Vatikan dengan AS

    KN-Newyork, Hubungan antara Amerika Serikat dan Vatikan memanas sejak awal 2026 di tengah konflik di Timur Tengah. Ketegangan ini dipicu oleh kritik Paus Leo XIV, paus pertama kelahiran Amerika Serikat,…

    Banyak Konsumen di Amerika Serikat Telat Bayar Paylater

    KN-Newyork, Hampir setengah pengguna Buy Now, Pay Later (BNPL) mengatakan mereka pernah membayar terlambat setidaknya satu cicilan dalam setahun terakhir, menurut survei yang dirilis pada Senin (14/4/2026). Survei yang dipublikasikan…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *