MENGHITUNG POTENSI KEMENANGAN ANIES DALAM PILPRES 2024

Foto: Anies Baswedan, sumber foto: Malang Today

Oleh : Bani

Stramed, Lebih yamaha dari yamaha, semakin didepan. Adalah motto yang sangat cocok disematkan pada partai Nasdem. Narasi Prabowo-Puan diangkat caleg Nasdem (Birgaldo) beberapa waktu yang lalu. Tindakan ini adalah upaya mengajak masyarakat menjadi golput. Atau berbalik arah memilih kandidat lain yang dianggap lebih baik.

Citra Prabowo memang sudah tamat, tidak ada tanda koma lagi disana, mau bagaimanapun agak berat menerima Prabowo, terlebih dikalangan masyarakat kelas nasionalis. Nama Prabowo sebenarnya masih bisa saja didukung namun dengan perjanjian-perjanjian tertentu seperti layaknya Ijtima ulama berseri yang menekankan kontrak politik dengan Prabowo. Namun, dengan rekam jejak dikhianati Prabowo berkali-kali, dan jika ada kawan baru yang lebih kompeten, berat rasanya mereka tetap akan di Prabowo.

Sedangkan nama Puan sendiri sendiri sebenarnya dikalangan masyarakat biasa juga tamat. Beda kalau yang partisan. Nama Puan mungkin saja paling tinggi dalam pemilihan legislatif, tapi bisa saja faktanya tidak demikian, kita tak akan tau kalau mungkin bendera partailah yang dipilih dan bendera partai itu dipilih tak lain karena nama besar Joko Widodo.

Bukan cerita asing kalau banyak masyarakat yang menolak Puan, kita tak tau kerjanya dia apa, dikalangan milenial Puan tak akan terkenal, tak akan dijadikan “mama online” karena Puan tidak pernah branding diri, tidak ada rekam jejak, kita yang pengguna medsos ini jarang melihat puan berkarya.

Nama Prabowo-Puan jatuhnya sangat berat bila dipaksakan. Tapi keduanya punya basis massa yang jelas. Punya uang yang cukup, punya segala infrastruktur yang lengkap, kalau mereka maju benarkah bisa lolos?

Ini yang menjadi tantangan Nasdem, Nasdem seolah melihat banyak kelemahan diantara 2 besar itu, satu-satunya kunci surga buat Nasdem adalah perhitungan nilai elektabilitas. Kebetulan nama Anies Baswedan adalah yang paling atas.

Pilpres tidak bisa banyak calon, Pilpres harus mengikuti Presidential Threshold 20% PDIP dapat 19.33% dia bisa menggait partai apapun 1 saja, jika menggait Gerindra 12.57% maka totalnya jadi 31.9% Sedangkan Nasdem sendiri punya 9.05% jika Nasdem menggait PKS sebagai kawannya 8.21% maka totalnya jadi 17.26%.

Angka Nasdem masih tertinggal, namun dia cukup menggait PAN 6,84% maka totalnya jadi 24.1%. Bila Berkarya dan Garuda ikut mendukung, mereka hanya akan disebut partai pendukung, bukan partai pengusung karena kedua partai tersebut non parlemen. Tersisa adalah partai Golkar 12,57 %, PKB 9,69%, PPP 4,52%, Perindo, PSI, Hanura, PBB Jika ini membentuk poros baru, itu mungkin saja, karena total perolehannya sudah cukup sesuai aturan 26.78%

Jika Anies maju di usung Nasdem, PKS, PAN. dan PDIP mendukung kandidat lain yang kuat elektabilitasnya juga. Ditambah dengan kemungkinan Golkar bikin poros sendiri. Maka peluang Anies akan berat terpilih lagi. Seolah ini menggambarkan Pilgub Jabar, konsentrasi dipecah menjadi 3.

Publik akan bingung memilih yang mana, memang benar Ridwan Kamil (Nasdem) yang memang di Jabar, tapi ada catatan penting saat kampanye lalu itu, bahwa memang ada strategi khusus untuk memenangkan RK demi menghindari stigma penista agama.

Di Jabar PDIP hanya melakukan ujicoba, menghitung suara massa, memecah kosentrasi suara, penetrasi luapan kebencian ditujukan pada PDIP semata, sedangkan Ridwan yang sejatinya dicalonkan dapat citra suci karena ada partai penista agama yakni PDIP yang tampil sendiri.

Masyarakat Jabar pusing dan terkecoh, akhirnya dengan strategi ini membawa Ridwan menang walau selisihnya tipis dengan Sudrajat-Ahkmad Syaiku. Pilpres, bila kosentrasi dipecah menjadi 3 lagi maka kita akan mengingat Pilpres 2009, saat JK berusaha tampil jadi Presiden.

Inget JK yang ambisi, kalah dengan SBY yang petahana, walau pada saat itu, PDIP kalah karena Mega tetap ngotot mencalonkan diri bersama Prabowo. 3 Calon akan membuat suara rakyat jadi terpecah dan bingung mau memilih yang mana sebab calon yang diusung nanti punya rekam jejak masing-masing.

Potensi Anies menang akan mimpi. Tapi kalau hanya ada 2 calon, Potensi Anies menang cukup tinggi karena dia masih memegang elektabilitas tertinggi.

Tapi bila lawan Anies adalah Sandiaga di 2024. Kalau mereka adalah lawan, maka tak akan ada kemungkinan Anies dapat memenangkan pertarungan, elektabilitas Prabowo-Sandiaga sudah tinggi, sayangnya Gerindra cuma boleh memasukan 1 calon karena PDIP juga akan menyetor nama. Risma, Ganjar atau mungkin Gibran, teruntuk nama Gibran sendiri tentunya akan menjadi tamparan keras baru buat para politikus lama.

Pilpres 2024 masih lama, kenapa mesti dibacarakan sekarang? Ya namanya Nasdem lebih yamaha dari yamaha, Masih 2024 nanti tapi udah dibicarakan sekarang, jadi kita patut mengulasnya.

*) Pemerhati Indonesia

Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Related Posts

Magnet Gen Z: Program Makan Bergizi Gratis Dongkrak Kepuasan Publik Prabowo hingga 79,9%

​KN-JAKARTA,  Generasi Z (Gen Z) muncul sebagai basis pendukung paling loyal sekaligus kelompok dengan tingkat kepuasan tertinggi terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto. Hal ini terungkap dalam rilis survei nasional terbaru…

Kepuasan Publik Presiden Prabowo Stabil di Angka 79,9%, Gen Z Jadi Penopang Utama

​KN-JAKARTA,  Memasuki tahun kedua kepemimpinannya, Presiden Prabowo Subianto berhasil mempertahankan tingkat kepercayaan publik yang tinggi. Berdasarkan hasil survei terbaru Indikator Politik Indonesia, tingkat kepuasan masyarakat (approval rating) mencapai 79,9 persen,…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *