KN. Diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah Saw. menemuinya, pada saat itu bersamanya ada seorang wanita. Beliau bertanya, “Siapakah ini ?” ‘Aisyah menjawab, “Dia adalah Fulanah”. Aku menceritakan kepada beliau tentang ibadahnya yang berlebihan. Kemudian beliau bersabda, “Sebaiknya engkau melakukan ibadah sesuai dengan kemampuan kalian. Demi Allah, Allah tidak akan lelah memberikan pahala karena banyaknya amalmu, justru engkau yang lelah. Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus”.
Diriwayatkan dari Anas r.a, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang berikrar Laa Ilaaha illallah dan dalam hatinya terdapat keimanan walaupun sebesar biji gandum, maka ia akan keluar dari siksa api neraka. Barangsiapa yang berikrar Laa ilaaha illallah dan di dalam hatinya terdapat keimanan walau sebesar satu butir bulir padi, maka ia akan keluar dari siksa api neraka. Barangsiapa yang berikrar Laa ilaaha illallah dan di dalam hatinya terdapat keimanan walau sebesar atom sekalipun, maka ia akan keluar dari siksa api neraka”.
Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab r.a bahwa seorang lelaki Yahudi berkata kepadanya, “Wahai Amirul mukminin, sesungguhnya pada kitab yang kalian baca terdapat satu ayat, yang apabila diturunkan kepada kami orang Yahudi, maka hari diturunkankannya ayat itu akan kami jadikan sebagai hari raya. Umar bertanya, “Ayat apakah itu ?” Orang Yahudi itu menjawab, “Yaitu ayat : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS. al-Maidah : 3). Umar berkata, “Kami mengetahui hari itu adalah hari Jum’at dan beliau sedang berdiri di Arafah”.

Diriwayatkan dari Thalhah bin Ubaidillah r.a, dia berkata : Seorang laki-laki penduduk Nejd menemui Rasulullah Saw. rambutnya terurai dan suaranya terdengar keras tetapi kami tidak dapat memahami apa yang dia katakan sehingga ia mendekat kepada kami. Ternyata ia bertanya tentang Islam. Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Shalat lima waktu dalam sehari semalam”. Ia bertanya, “Apakah masih ada shalat lain yang wajib aku kerjakan?” Beliau bersabda, “Tidak ada kecuali engkau mau melakukan shalat sunat”. Selanjutnya Rasulullah menambahkan, “Kemudian engkau harus berpuasa selama bulan Ramadhan”. Ia bertanya lagi, “Apakah ada puasa lain yang aku kerjakan?” Beliau bersabda, “Tidak ada kecuali engkau mau melakukan puasa sunat”. Kemudian Rasulullah menjelaskan lagi, “Engkau harus membayar zakat”. Ia bertanya lagi, “Apakah ada hal lain yang harus aku bayar selain zakat?” Rasulullah menjawab, “Tidak ada kecuali engkau mau melakukan yang sunat”. Orang itu pun berlalu seraya berkata, “Demi Allah, aku akan melakukan semua itu tanpa menambahkan maupun mengurangi”. Rasulullah bersabda, “Apabila ia melakukan apa yang ia katakan, maka ia akan berbahagia”.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang mengantarkan jenazah seorang muslim karena keimanan dan mengharapkan ridha Allah sehingga ia ikut menshalatkannya dan upacara pemakaman selesai dilaksanakan. Maka ia akan pulang dengan membawa dua qirath, yang masing-masing sebesar gunung Uhud. Barangsiapa yang ikut menshalatkannya saja dan tidak ikut menguburkannya, maka akan pulang dengan membawa satu qirath saja.” (1 Qirath = 4/6 dinar).
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Mencela orang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”.
Diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit r.a, bahwa Rasulullah Saw. pergi menemui para sahabatnya untuk mengabarkan tentang Lailatul Qadr, akan tetapi di sana terdengar perselisihan antara dua orang muslim. Rasulullah Saw. bersabda, “Aku datang kemari untuk mengabarkan tentang Lailatul Qadr, tetapi si Fulan dan si Fulan berselisih, maka kabar itu (tanggal turunnya) pun telah diangkat, mungkin itu yang lebih baik bagi kalian, carilah ia (Lailatul Qadr) pada tanggal tujuh, sembilan atau ke lima (maksudnya pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan)”.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud r.a, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila seorang suami memberi nafkah kepada keluarganya dengan niat karena Allah dan ingin mendapatkan pahala dari-Nya, maka ia memperoleh pahala sedekah”.
Diriwayatkan dari an-Nu’man bin Basyir r.a, dia berkata : aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Yang halal telah jelas dan yang haram telah jelas dan yang ada di antara keduanya adalah hal yang syubhat (yang meragukan) yang tidak banyak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang memelihara diri dari hal yang syubhat, maka dia telah memelihara kehormatan dan agamanya. Barangsiapa yang terjerumus kepada yang syubhat, ia bagaikan penggembala yang menggembalakan ternaknya di dekat padang rumput larangan dan kapan saja ia dapat terperangkap ke dalamnya. Wahai umatku, berhati-hatilah karena setiap raja memiliki padang larangan, dan padang larangan milik Allah di bumi ini adalah segala hal yang diharamkan-Nya. Hati-hatilah ! Sesungguhnya di dalam jasad terdapat sekerat daging, apabila sekerat daging itu baik maka seluruh anggota badan akan menjadi baik dan apabila ia rusak maka seluruh anggota badannya akan rusak. Ingatlah itu adalah hati”.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a : Ketika Rasulullah Saw. sedang menyampaikan nasehat dalam sebuah majelis, tiba-tiba seorang Arab Badui datang, kemudian orang itu bertanya, “Kapan datangnya hari kiamat?” Rasulullah terus berbicara, sehingga sebagian sahabat mengatakan, “Rasulullah memperhatikan pertanyaan orang Badui itu namun beliau tidak menyenanginya”, sementara sebagian yang lain mengatakan, Rasulullah tidak mendengar pertanyaan tersebut”. Setelah Rasulullah selesai menyampaikan nasehat, beliau bertanya, “Mana orang yang bertanya tentang kiamat?” Orang tersebut menjawab,?”Aku, ya Rasulullah”. Rasulullah Saw. bersabda, “Jika amanah sudah diabaikan, maka tunggulah kiamat”. Tanya orang tersebut, “Bagaimana amanah itu diabaikan?” Rasulullah menjawab, “Apabila suatu hal diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat”.







