KN-LAMPUNG UTARA — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Utara menorehkan prestasi gemilang dalam mendukung program swasembada pangan nasional, khususnya pada komoditas gula. Daerah ini berhasil menduduki peringkat kedua secara nasional dalam perluasan areal lahan tebu rakyat dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Lampung Utara, M. Rizki, mengungkapkan bahwa komitmen ini dibuktikan dengan hamparan tebu tahap pertama yang kini bersiap memasuki masa panen raya.
”Panen tahap pertama dilakukan di lahan seluas 2.700 hektare dari total pengembangan tebu rakyat sebesar 5.808 hektare pada tahun tanam 2025/2026,” ujar Rizki didampingi Sekretaris Disbunak, Ria Yuliza, di ruang kerjanya.
Rincian Tahapan dan Skema Bantuan Petani
Akselerasi perluasan lahan yang masif ini terbagi ke dalam dua tahapan utama serta program optimasi lahan. Berikut adalah rincian data pengembangan tebu rakyat di Lampung Utara:
|
Tahapan Pengembangan |
Luas Areal (Hektare) |
Status Operasional |
|---|---|---|
|
Tahap Pertama |
2.700 Ha |
Segera memasuki masa panen |
|
Tahap Kedua |
3.061,85 Ha |
Proses perluasan/tanam |
|
Sisa Lahan |
Opsi Alokasi |
Lahan Bongkar Ratoon (BR) |
|
Total Akumulasi |
5.808 Ha |
Target Tahun Tanam 2025/2026 |
Sekretaris Disbunak, Ria Yuliza, menambahkan bahwa capaian membanggakan ini tidak lepas dari stimulus nyata yang diberikan pemerintah langsung kepada para petani di lapangan untuk mendukung visi swasembada gula pasir Presiden Prabowo Subianto.
Setiap petani penerima manfaat mendapatkan fasilitas berupa:
Bantuan bibit tebu unggul sebanyak 60 ribu batang per hektare.
Insentif dana tenaga kerja untuk membantu biaya penanaman awal.
Pendampingan Eksklusif dan Jaminan Pasar
Manfaat program ini dirasakan langsung oleh para petani, salah satunya Dedi Utama Putra, petani asal Desa Handuyang Ratu, Kecamatan Bunga Mayang. Menurutnya, kolaborasi interaktif antara pemerintah dan industri menjadi kunci sukses program ini.
“Selain bantuan bibit dan biaya tanam, hasil panen juga terserap langsung oleh pabrik gula, sehingga petani sangat terbantu. Pendampingan dari pemda dan pabrik gula dilakukan sejak tanam hingga panen,” kata Dedi.
Aspirasi Petani: Butuh Sarana Irigasi Hadapi El Nino
Kendati dinilai sukses besar, para petani mengingatkan pentingnya mitigasi risiko iklim ke depan. Bendahara Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Lampung Utara, Andre, berharap pemerintah daerah mulai memikirkan pasokan air operasional jangka panjang.
“Kami sebagai petani merasa terbantu. Harapannya program ini berkelanjutan. Namun, kami menyoroti perlunya dukungan sarana irigasi ke depan. Jika terjadi peralihan musim akibat fenomena El Nino, petani sangat membutuhkan pompa air untuk menjaga produktivitas pascapanen,” tutur Andre.
Hingga saat ini, Disbunak Lampung Utara bersama stakeholder terkait terus mematangkan persiapan logistik panen tahap pertama agar proses tebang, muat, dan angkut ke pabrik gula berjalan tanpa hambatan.






