Oleh: Hikmat Subiadinata
Di negeri yang katanya kaya,
guru masih menghitung hari dengan cemas.
Bukan menghitung prestasi muridnya, tetapi menghitung apakah gaji bulan ini cukup membeli beras, membayar listrik, dan menyekolahkan anaknya sendiri.
Ironi itu begitu sunyi.
Di ruang kelas yang mulai lapuk, ia mengajarkan kejujuran, sementara di layar berita ia menyaksikan korupsi bernilai triliunan.
Ia mengajarkan integritas, namun sering merasa integritas tak pernah mendapat tempat di meja-meja kekuasaan.
Lalu muncul pertanyaan yang berputar di kepala banyak orang:
“Mengapa guru belum benar-benar dimuliakan?”
Sebagian menjawab, karena anggaran terbatas.
Sebagian lagi berkata, karena birokrasi terlalu rumit.
Dan ada pula yang berprasangka, bahwa ada pihak-pihak yang tidak sungguh-sungguh ingin
rakyat menjadi semakin kritis dan cerdas.
Prasangka itu lahir dari luka panjang masyarakat, bukan dari kepastian yang telah terbukti.
Sebab sejarah mengajarkan, bangsa yang kuat tidak dibangun dengan rakyat yang bodoh, melainkan dengan rakyat yang berilmu.
Guru bukan sekadar profesi.
Ia adalah penjaga peradaban.
Di tangannya, anak seorang buruh dapat menjadi ilmuwan.
Di tangannya, anak petani dapat menjadi pemimpin.
Di tangannya, masa depan republik sedang ditulis
setiap hari.
Karena itu, ketika guru hidup dalam kekurangan, sesungguhnya yang sedang dikurangi
bukan hanya kesejahteraannya.
Yang sedang dipertaruhkan adalah kualitas masa depan Indonesia.
Bangsa ini tidak memerlukan
penguasa yang takut kepada rakyat yang cerdas.
Bangsa ini memerlukan pemimpin yang justru bangga
melihat rakyatnya semakin kritis, semakin berani menyampaikan pendapat, dan semakin mampu mengawasi jalannya negara.
Sebab demokrasi bukan musuh kekuasaan.
Demokrasi adalah sahabat
bagi kekuasaan yang jujur.
Wahai para pemegang amanah, Jika benar engkau mencintai Indonesia, muliakanlah guru.
Jangan hanya dengan pidato,
tetapi dengan kebijakan yang adil, penghasilan yang layak, pelatihan yang bermutu, dan penghormatan yang nyata.
Karena membangun sekolah lebih mulia daripada membangun citra.
Meninggikan martabat guru adalah meninggikan martabat bangsa.
Indonesia tidak akan menjadi negara besar hanya karena kekayaan alamnya.
Indonesia akan menjadi besar
ketika setiap anak memperoleh pendidikan terbaik, setiap guru hidup bermartabat, dan setiap pemimpin menyadari bahwa ilmu pengetahuan adalah benteng terkuat sebuah peradaban.
Mari kita jaga republik ini.
Dengan akal yang tercerahkan.
Dengan hati yang jujur.
Dengan keberanian untuk memperbaiki, bukan untuk saling membenci.
Sebab Indonesia yang adil tidak lahir dari kebencian, melainkan dari ilmu, kejujuran, dan keberanian menegakkan kebenaran.
Untuk Indonesia tercinta, semoga setiap guru dimuliakan, setiap anak diberi kesempatan belajar, dan setiap pemimpin selalu ingat:
Bangsa yang menghormati guru, sedang menyiapkan kejayaan masa depannya.
Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.






