KN-BANDA ACEH – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, Daniel Abdul Wahab, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun Kota Banda Aceh. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Retret Kepemimpinan Pemerintah Kota Banda Aceh yang berlangsung di Mata Ie Resort, Sabang, Senin (18/5/2026).
Kegiatan retret kepemimpinan ini dibuka langsung oleh Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal. Forum ini menjadi ruang diskusi strategis bagi para pemangku kebijakan untuk merumuskan arah pembangunan daerah yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Dalam forum yang dihadiri oleh para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Banda Aceh tersebut, Daniel mewakili pimpinan DPRK memaparkan materi mengenai dukungan legislatif terhadap pelaksanaan program pembangunan kota ke depan.
Soroti Tantangan Kota dan Keterbatasan Anggaran
Dalam paparannya, Daniel mengungkapkan sejumlah tantangan utama yang saat ini dihadapi Banda Aceh. Tantangan tersebut mulai dari penguatan syariat Islam, penataan kota yang inklusif, pertumbuhan ekonomi, persoalan banjir, hingga penanganan sampah yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Selain itu, politisi muda Partai NasDem ini juga menyoroti pentingnya:
- Peningkatan pelayanan publik yang cepat dan responsif.
- Penguatan sektor pendidikan dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
- Pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif sebagai motor pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurut Daniel, realitas yang dihadapi pemerintah saat ini semakin kompleks. Di satu sisi harapan masyarakat terus meningkat, namun di sisi lain kemampuan anggaran daerah cenderung terbatas. Oleh karena itu, ia menekankan agar penggunaan anggaran benar-benar diarahkan pada program prioritas yang menyentuh langsung kepentingan publik.
Kolaborasi, Bukan Kompetisi
“Pembangunan Banda Aceh tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan sinergi yang solid antara Forkopimda, dunia usaha, dan masyarakat. Pembangunan yang berhasil lahir dari kolaborasi, bukan kompetisi,” ujar Daniel tegas.
Daniel juga menyampaikan bahwa kemajuan kota tidak lahir dari banyaknya wacana, melainkan dari keberanian mengambil keputusan dan konsistensi dalam pelaksanaan. Ketika parlemen (legislatif) dan pemerintah (eksekutif) berjalan dalam visi yang sama, ia optimis pembangunan akan berjalan lebih cepat, lebih kuat, dan dampaknya lebih dirasakan masyarakat.
Ia juga meluruskan persepsi mengenai fungsi pengawasan yang melekat pada lembaga legislatif. Menurutnya, fungsi pengawasan DPRK bukan untuk mencari-cari kesalahan eksekutif, melainkan untuk memastikan pembangunan berjalan lebih baik dan tepat sasaran.
“Perbedaan tidak boleh menghambat kepentingan warga. Mari kita terus menjaga sinergi ini demi Banda Aceh yang lebih maju, tertata, dan sejahtera dalam bingkai syariat Islam,” ajaknya.
Melalui retret kepemimpinan ini, diharapkan lahir kesamaan visi dan penguatan sinergi antara legislatif, eksekutif, serta seluruh elemen daerah dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan Kota Banda Aceh ke depan.
Ditutup dengan Pantun
Menutup pemaparan materinya di hadapan para kepala OPD, Daniel Abdul Wahab mencairkan suasana dengan menyampaikan sebuah pantun:
“Subuh-subuh kami bangun pagi,
Laut bergelombang kami seberangi.
Bukti nyata dukungan kami beri,
Demi menyukseskan acara Pemko di bawah kepemimpinan Bu Illiza ini.”
“Mudah-mudahan pulang retret semua senang hati,
Dengan bekal yang telah diberi oleh para pemateri.”







